02 Januari 2010

Translate Bab 14

Penilaian mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan
“Hal yang sangat mengejutkan saya ketika saya beralih dari praktek klinik swasta dan bekerja di sebuah dewan sekolah adalah kepercayaan sebagian besar guru terhadap tes. Kepercayaan semacam itu bukanlah hal yang mengejutkan dalam praktek klinik karena anda berhubungan dengan masyarakat umum. Tetapi guru itu profesional. Saya lebih berharap mereka sedikit bersikap-bagaimana saya mengatakannya-agnostik? Maksud saya, ujian bisa membantu, tapi itu tergantung kepada orang yang memberikan tes. Tes hanya akan baik jika orang yang memberikannya juga baik.”
-Ed Seip

Peran Penilaian
Jika dasar dari pendidikan khusus adalah Perencanaan Pendidikan Individu, maka langkah pertama untuk membangun pondasi penting tersebut adalah penilaian pendidikan. Ketika siswa dinilai, informasi yang relevan dikumpulkan dan diterjemahkan/ditafsirkan dari berbagai sumber, seperti penilaian berbasis kurikulum oleh guru, tes formal terhadap sikap dan kemampuan siswa, pengamatan oleh guru, asisten dan orang tua. Apa yang didapat, setidaknya secara teoritis, adalah sebuah pemahaman yang mendalam tentang kemampuan, kecerdasan, kekuatan, kebutuhan dan perilaku siswa luar biasa. Penemuan-penemuan tersebut membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih terdidik. Permasalahan tentang penempatan, dan tentu saja struktur dan isi dari program siswa, semuanya bisa diperbaiki melalui penilaian yang cakap. Evaluasi yang merupakan tindak lanjut dari keberhasilan ataupun kegagalan program, atau tentang perlunya dilakukan modifikasi terhadap program tersebut, hampir selalu mengacu pada penilaian awal sebagai perbandingan.

Sempat dianggap sebagai sebuah bidang khusus/eksklusif yang diperuntukkan bagi para spesialis, kini penilaian lebih dianggap sebagai pencapaian berorientasi tim dengan partisipasi dan tanggung jawab yang diperankan oleh beberapa orang tertentu, terutama guru kelas, orang yang paling memungkinkan untuk menyampaikan program. Pihak-pihak lain yang terlibat, mencakup orang tua murid (dan terkadang, dalam beberapa kasus remaja, murid itu sendiri), asisten, guru pendidikan khusus (yang bertanggung jawab atas investigasi yang lebih formal), dan jika perlu, staff tersedia dan terjangkau, serta beberapa macam individu dengan keahlian khusus.

Kenyataan dari “Kemungkinan yang Kurang Tepat”
Bukan masalah sejauh mana guru menginginkan informasi yang spesifik tentang murid-muridnya, dan juga bukan masalah sejauh mana kita terbudayakan kepada keyakinan bahwa kebenaran dapat ditunjukkan, namun faktanya adalah hal terbaik yang dapat dihasilkan dari penilaian pendidikan adalah semacam “kemungkinan yang kurang tepat” (loose probability). Tetap saja, meskipun kurang tepat, itu merupakan kemungkinan yang penting untuk diperhitungkan. Pendidikan itu sendiri bukanlah pengetahuan alam yang bersifat eksak, dan pengajaran efektif lebih dekat kepada pemahaman seni dari pada sekedar instruksi mekanik. Penilaian menyediakan informasi yang dikumpulkan dengan cara yang terorganisasi, sekurang-kurangnya ia memperkuat objektivitas penilaian, sebuah gambaran tentang orang-orang yang bekerja dengan peserta didik. Hal terbaiknya adalah ia bisa menunjukkan faktor-faktor yang tidak seorangpun tahu atau bahkan menduganya.

Diakui bahwa ada alasan untuk menaruh keraguan tentang beberapa prosedur dan komponen dalam penilaian dan sangat memungkinkan, alasan untuk berhati-hati terhadap hasil penilaian, tetapi untuk mengabaikan kemungkinan kontribusi dari sebuah penilaian efektif untuk kasus siswa luar biasa tentu merupakan tindakan yang merugikan. Penilaian memiliki peran penting untuk dijalankan. Yang menentukan kualitas dari peran tersebut adalah kualitas prosedur penilaian dan bagaimana hasil penilaian diinterpretasikan dan diterapkan.

Kapan Penilaian dinyatakan Selesai?
Ada yang berpendapat bahwa penilaian dilakukan setiap saat di sekolah. Apakah memonitoring perilaku siswa di gedung sekolah, mengamati ketika siswa melempar bola basket di gedung olah raga atau mengevaluasi siswa ketika tes menulis, guru selalu siap terhadap kemungkinan untuk mengumpulkan data yang akan mengembangkan program dan mengidentifikasi kebutuhan atau kekuatan dari siswa. Penilaian merupakan bagian penting dari pengajaran. Memilih kapan waktu untuk menilai, apa yang akan diamati, bagian tugas yang mana yang akan dimasukkan ke dalam portofolio, atau memilih siapa yang akan mendengarkan dalam materi membaca-ini adalah semua bagian dari tantangan harian untuk guru.

Bagaimanapun, untuk siswa luar biasa, prosesnya berupa penilaian hari per hari yang dibuat oleh guru. Sebagai contoh, dalam situasi dimana masalah dapat diselesaikan dengan sedikit bantuan, guru akan akan membawa kasus siswa luar biasa ini sebelum masuk ke lingkungan sekolah. Jika begitu, ia biasanya akan mempersiapkan untuk ini, rujukan dengan membuat inisial penilaian berdasarkan pengamatan, penampilan di kelas, portofolio, sampel dari hasil pekerjaan siswa dan mungkin skala rating dengan ceklis (khususnya pada kasus potensi ‘perilaku’). Merupakan hal yang tidak biasa bagi guru untuk terlibat dalam penilaian berbasis kurikulum: mengumpulkan informasi dalam suatu periode waktu, seputar kemampuan siswa dalam bagian kurikulum tertentu (seperti membaca atau matematika).

Ketika kondisi siswa lebih rumit dan memerlukan banyak perhatian, lalu disamping penilaian yang telah diuraikan di atas, lebih intensif/terperinci, formal, dan prosedur khusus (semacam tes IQ atau pencapaian hasil tes yang telah ditentukan, atau pada beberapa kasus, tes diagnostic) akan dilaksanakan. Satu poin ketika penilaian yang kompleks dan menyeluruh telah mantap untuk dilaksanakan adalah pengembangan IEP.

Sekiranya ketika siswa sedang diidentifikasi sebagai siswa luar biasa dengan IPRC, penilaian cenderung menjadi sangat teliti dan berhati-hati. Biasanya, informasi dikumpulkan melalui beberapa sumber, dan berbagai macam strategi penilaian pun diterapkan. IPRC lalu akan menggunakan data ini untuk membantu dalam mengidentifikasi siswa luar biasa, dan untuk membantu dalam memutuskan penempatan yang sesuai. Data yang telah terkumpul lalu digunakan dalam pengembangan IEP siswa. Pada tahap pengulasan, data hasil penilaian ini akan lebih dalam lagi digunakan, terkini dan berharap bisa didapatkan informasi tambahan yang berbeda.
Hingga kini prosedur yang lain tengah dalam “penyaringan”. Hal ini (dengan jelas) bersifat formal tapi prosedur yang kompleks digunakan untuk memutuskan apakah tes tambahan dibutuhkan atau tidak. Sekelompok siswa disaring berdasarkan prestasi atau melalui tes kemampuan kognitif atau instrumen-instrumen lainnya. (Beberapa dewan sekolah memiliki sistem penyaringannya sendiri untuk digunakan bersama, atau pada tempat tertentu, yang secara komersil mampu mengumumkan tentang tes tersebut) Tujuannya adalah untuk menemukan sesuatu yang belum pernah ditemukan (discovery), secara garis besar, mencari tahu apakah ada siswa yang bermasalah atau berpotensi berbakat. Siswa-siswa tersebut lalu biasanya dinilai lebih jauh dan lebih formal untuk memperkuat apakah mereka bermasalah (risk) atau berbakat (gifted). Penyaringan akan dilakukan pada masa sebelum sekolah (preschool) dimana anak akan memasuki sekolah. Mereka akan disaring atau dites daya penglihatannya, pendengaran dan kesiapan umum. Selanjutnya dalam karir siswa, penyaringan membantu untuk mengidentifikasi siswa yang dinilai untuk berubah kepada kriteria performa normal. Siswa-siswa ini lalu akan dites lebih lanjut untuk menilai perbedaan alaminya.

Siapa yang melakukan Penilaian?
Penilaian oleh guru akan menghabiskan waktu seharian dengan siswa, proses, dan tentu saja dimulai di kelas. Adalah guru yang dapat mengamati dengan sangat baik respon siswa terhadap teks, reaksi mereka terhadap lingkungan fisik sekitar, dan hubungan dengan sebaya dan orang dewasa. Guru mengumpulkan sampel dari hasil kerja siswa: catatan harian, ujian, dan portofolio. Ini adalah instrumen-instrumen yang bersama opini dan pandangan guru secara professional, menetapkan inisial, dasar, dan sering kali, informasi yang terpenting. Test lebih lanjut (dan pengamatan) mungkin akan diselesaikan oleh guru pendidikan khusus dari sekolah. Kombinasi ini dengan jelas memiliki keuntungan bagi dua (atau lebih) guru. Lalu diharapkan dapat kooperatif dalam langkah selanjutnya: mendesain program penilaian tidak langsung.
Pada kewenangan/tingkatan yang lebih tinggi, sering kali ada bagian tertentu yang bertanggung jawab terhadap penilaian, dikenal dengan descriptor, diantaranya pelayanan psikologi, psych-support, dll. Unit ini melaksanakan hampir semua penilaian untuk pendidikan khusus di luar kelas. Psikolog, atau personil kerja dibawah bimbingannya dan pengawasan langsung, berperan banyak dalam penilaian. Kewenangan/tingkatan yang lebih rendah membuat penyusunan alternatif dimana kelas dan guru pendidikan khusus mungkin diberikan tanggung jawab yang lebih dalam penilaian formal. Bagaimanapun kebanyakan dewan sekolah, walaupun kecil, memiliki tipe penilaian ini.

Beberapa dewan sekolah yang lebih besar mungkin memakai ahli bahasa dan pidato untuk menilai siswa dalam hal kesulitan berbahasa. Penyaringan fisik seputar penglihatan dan pendengaran umumnya di dilakukan oleh perawat kesehatan masyarakat. Penilaian tersebut dilakukan oleh physiotherapists dan juga orang yang bekerja di ranah terapi. Penilaian ini berada di luar kewenangan dan kemampuan dewan sekolah, walaupun sekolah, melalui kerjasama dengan orang tua murid meminta sejumlah penilaian kepada tim penilai.

Orang tua terkadang memperoleh penilaian secara pribadi, kendatipun melalui hukum, mereka memiliki akses untuk memperoleh data yang sekolah miliki. Mereka bisa meminta data ini kepada sekolah (atau kepada IPRC) atau, mereka juga bisa memilikinya.

Komponen Penilaian
Sebagian besar informasi penilaian yang dikumpulkan tentang siswa tergantung pada apa yang siswa lakukan (pengamatan langsung), pengumpulan sistematik terhadap hasil kerja siswa, diskusi dan informasi yang dibagi oleh stakeholders dalam pendidikan anak (termasuk orang tua, tentunya), dan akhirnya, ujian. Menurut sejarah, dalam pendidikan khusus, penekanan ditempatkan pada elemen terakhir. Dongeng tentang ujian telah sering memuramkan dan bahkan membuat tindakan terhadap kepentingan dari siswa luar biasa menjadi terlambat. Frasa “Kita sedang mengujinya” merupakan hal yang sering terdengar, dan tidaklah aneh bagi guru untuk frustasi dalam menunggu hasil sebelum memodifikasi program. Keuntungan dari lebih terformalisasinya model ujian sebenarnya dapat memberitahukan proses perencanaan program. Tapi untuk beberapa waktu sekarang ini, pengalaman dari pendidikan khusus mengajarkan bahwa ujian formal hanya satu komponen dari proses yang lebih kompleks; yang dimulai oleh guru di kelas, menduga sesuatu, mengambil tindakan dari dugaan tersebut, dan akhirnya mencoba strategi yang memungkinkan untuk memperbaikinya.

The ‘Battery’
Aneh, perangkat yang membuat penilaian formal sering dijelaskan secara bersamaan dalam sebuah istilah angkatan bersenjata: penilaian ‘battery’ (suatu unit dalam angkatan bersenjata berikut persenjataannya, dipimpin oleh seorang kapten). Apa yang diamati di sini adalah penjabaran dari komponen-komponen yang mungkin digunakan dalam battery, walaupun beberapa diantaranya akan hampir selalu termasuk di dalamnya. (ini sulit, sebagai contoh, untuk menyatakan bahwa sebuah penilaian akan berguna dan valid tanpa pengamatan dari guru dan asistennya) Keputusan tentang komponen apa saja yang akan digunakan, secara khusus diatur oleh sekolah dan kebijakan dewan sekolah.

Sebagai contoh, banyak dewan sekolah memiliki syarat yang kompleks dan ketat untuk mengidentifikasi siswa sebagai siswa berbakat dan memerincikan bahwa beberapa instrument tes digunakan sebagai bagian dari prosedur identifikasi. Beberapa dewan sekolah menghindari atau bahkan melarang penggunaan dari komponen tertentu. Meskipun demikian, sekali sekolah dan kebijakan dewan sekolah bertemu, bagaimana penilaian sebenarnya diatur, dan apa kegunaannya, akan secara khusus menjadi pilihan dari personil professional yang terlibat. Pilihan itu akan sangat bergantung pada pengetahuan mereka, kompetensi dan kesukaan pribadi.

Informal Tes (buatan guru)
Perkembangan tingkat kesadaran tentang benefit ketika penilaian diatur oleh orang yang bekerja secara langsung dengan siswa, berarti telah terjadi sebuah peningkatan dalam penggunaan dan penerimaan terhadap sebuah alat ukur informal yang didesain oleh guru kelas. Kerugian dari alat ukur ini adalah tidak adanya kaidah dalam pelaksanaannya, dan dengan demikian mereka biasanya tidak mau menerimanya di luar situasi terdesak. Namun demikian, itu bukan tujuannya. Keuntungannya adalah tes informal sering kali dapat disesuaikan untuk menghadapi kebutuhan khusus. Sebagai contoh, sebuah tes informal bisa didesain untuk memberitahukan ada atau tidak adanya kemampuan yang sangat khusus yang dimiliki siswa. Oleh karena itu ia mampu menyediakan gambaran tentang mengapa dan kapan siswa gagal untuk memahami sebuah kompetensi/skill sebagai pengganti dari penegasan secara sederhana bahwa siswa tidak dapat memahami skill tersebut.

Alat ukur informal yang lain bisa mencakup guru, menggunakan bagian dari rating scales (tingkatan skala ukur) dan ceklis, maka ia dapat lebih pasti untuk menutupi semua poin. Di sini, inventaris informal sangat berguna.

Penilaian Berbasis Kurikulum
Konsep ini melibatkan pengukuran kemampuan siswa berdasarkan apa yang diharapkan oleh kurikuler yang telah dirancang oleh sekolah. Banyak peneliti beranggapan bahwa penilaian berbasis kurikulum, meskipun penjelasan dan argument menyertainya, tidak terlalu berbeda dengan cara evaluasi di sekolah yang telah dilaksanakan dengan baik sebelum pendidikan khusus menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Dalam kasus siswa luar biasa, beberapa orang mencela bahwa penilaian berbasis kurikulum bukanlah alternatif sesungguhnya, karena semua itu benar-benar mempertegas bahwa siswa tidak memberikan respon yang sesuai dengan kurikulum, sebuah fakta yang sudah sangat jelas.
Pihak yang mendukung penilaian berbasis kurikulum membantah, bagaimanapun, penilalian berbasis kurikulum menekankan pada identifikasi terhadap siswa secara personal, unik dan memiliki karakteristik yang kompleks sebagaimana ia terhubung secara langsung kepada kurikulum, dan keunikan ini sangat unggul untuk jenis penilaian yang hanya menetapkan adanya beberapa kekurangan/kecacatan.

Agar dapat berjalan efektif, penilaian berbasis kurikulum harus dilaksanakan secara berkesinambungan; penilaian ini seharusnya spesifik; hasil penilaian seharusnya dianggap sebagai alasan terhadap penyesuaian instruksi, mungkin, selain hanya menentukan bagaimana keadaan siswa; dan, ujian harus mempertimbangkan hal-hal kecil, sub-skill yang diperoleh selain kemahiran dalam menghadapi masalah global.

Tes Formal
Tes Kecerdasan

Tes kecerdasan tradisional menjadi popular di Ontario terlepas dari keprihatinan banyak pendidik tentang nilai (value) dari prosedurnya. Secara umum, tes IQ memberikan penilaian yang relatif akurat tentang apa yang siswa telah pelajari (dan bagaimana daya ingatnya) dan tentang apa yang telah mereka alami sejauh ini dalam hidupnya. Dalam pengertian ini, tes IQ adalah ukuran kemampuan siswa untuk saat ini. Yang selanjutnya menjadi perdebatan adalah apa langkah-langkah tes potensi intelektual? dan dengan demikian dapat secara sah tes IQ dianggap sebagai alat prediksi kinerja sekolah masa depan. Meskipun terdapat beberpa keprihatinan, instrumen IQ terus digunakan untuk tujuan itu. Di antara beberapa tes IQ yang tersedia secara komersial, yang paling banyak digunakan sejauh ini di provinsi Ontario, adalah Wechsler Intelijen Scale for Children III, yang dikenal sebagai WISC III.

Tes Proyektif
Psikologi Gestalt dan metode psikoanalitik mengusulkan bahwa seorang individu akan merancang kehidupan pribadinya, khususnya perasaan batinnya, ketika dihadapkan dengan stimulus yang ambigu seperti sebuah gambar inkblot. Ketika diminta untuk membuat gambar dari sebuah situasi atau objek atau ketika diminta untuk menjelaskan "apa yang terjadi di sini?", sementara yang ditunjukkan gambar, seorang individu akan-menurut teori ini-mengekspos lebih dalam daripada jika kita tanya secara langsung. Tes proyektif telah dikritik keras karena kurangnya norma-norma, tidak cukup standardisasi, sepenuhnya interpretasi subjektif, dan bahkan lebih mengungkapkan tentang si pemeriksa/penilai dari pada subjek itu sendiri (siswa)! Meskipun penggunaannya telah menurun secara drastis di Ontario, ia masih muncul di beberapa penilaian. Beberapa contoh adalah Rorschach Inkblot Test (1932) dan Human Figure Drawing Test (1968).

Tes Prestasi Akademik
Ini adalah instrumen tes resmi yang paling banyak digunakan dari semua-dan mungkin yang paling disalahgunakan. Ada tes prestasi untuk kelompok besar dan ada tes individu. Administrator dari tes prestasi bisa siapa pun, mulai dari guru kelas hingga psychometrist profesional.
Penerbit menyediakan detil administrasi manual dan merekomendasikan bagi para penilai/pemeriksa untuk menghadiri seminar. Dalam pendidikan khusus, sering kali tes prestasi digunakan sebagai tes penyaringan. Kegunaan yang lain, termasuk diantaranya perbandingan umum, karena hasil tes dihitung dalam term result-disebut norma-berkembang meluas, populasi yang dipilih secara acak. Dengan kata lain, pengambil tes menunjukkan di mana mereka melakukan tes, relatif terhadap populasi umum.

Test Diagnostik
Istilah ini menyesatkan. Tes ini tidak mendiagnosis dalam pengertian mutlak, tetapi lebih kepada informasi spesifik terkini tentang kemampuan siswa di bidang tertentu. Tujuan sebenarnya dari tes ini adalah untuk menyarankan bagian mana saja yang perlu perbaikan. Sub-tes dari Woodcock Reading Mastery tes-Revised (1987), misalnya, berurusan dengan bidang-bidang tertentu seperti 'serangan kata', 'identifikasi kata', dan 'pemahaman kata', mungkin memberikan indikasi tentang sejauh mana siswa berkompeten dalam bidang ini. Para pengkritik meragukan tes diagnostic ini. Namun, mereka mengakui hal itu mungkin karena nilai dalam bidang seperti matematika, di mana langkah-langkah dalam proses pengurangan, misalnya, dapat dipecah dan diterangi lebih jelas.

Tes Kemampuan Kognitif
Juri masih terlalu acuh terhadap persoalan apaka tes kemampuan kognitif adalah hal yang berbeda dari tes IQ dengan instrumen telah dipakai. Kognisi adalah tentang berpikir. Apakah pengujian untuk daya pikir adalah berbeda dari tes IQ bisa diperdebatkan. Dalam Ontario, pendukung perbedaan umumnya memilih Test Kemampuan Kognitif Kanada (1983)

Perkembangan dan Tes Kesiapan
Hal ini diatur oleh guru kelas-terutama guru kelas awal-untuk menentukan tingkat kemampuan siswa. Bagi siswa yang luar biasa, tujuan mereka secara umum adalah untuk penyaringan. Instrumen ini sangat sering digunakan bersama dengan daftar periksa (checklist) dan keterampilan siswa. Tes kesiapan dan pengembangan yang populer di Ontrario, adalah Boehm Test of Basic Concepts-Revised (1986) dan Brigance Inventories, (beragam).

Rating Scales, Inventories dan Daftar Periksa (checklist)
Instrumen ini biasanya menawarkan pernyataan deskriptif tentang bidang-bidang seperti perilaku, sikap, harga diri, perawatan diri, dan sebagainya, dalam daftar. Setiap item dalam daftar diikuti oleh peringkat frekuensi atau kadang-kadang hanya dengan keterangan 'ya' atau 'tidak'. Tanggapan yang dimasukkan oleh guru, asisten pendidikan, orangtua, pekerja sosial, atau pekerja perawatan anak. Sebuah contoh yang cukup popular dan relevan dari jenis ini adalah Child Behavior Checklist (1983).
Beberapa skala rating dirancang untuk dapat diselesaikan oleh siswa. The Coopersmith Self-Esteem Inventory (1983) misalnya, sekarang pernyataan kepada siswa seperti "Saya sering berharap saya adalah orang lain" diikuti dengan "seperti saya…… 'dan" tidak seperti saya……'.

Hasil dari skala tersebut sering kali digunakan untuk menentukan profil perkembangan dari mana pendidikan atau sosial atau tujuan perawatan diri dikembangkan. Kadang-kadang, informasi yang dapat digunakan untuk menunjukkan tingkat perkembangan, dan kadang-kadang keputusan tentang penempatan misalnya, akan dipengaruhi oleh tingkat yang ditunjukkan. Perilaku adaptif yang AAMD Skala: School Edition (1981) sering disebut sebagai perilaku adaptif 'tes' yang sering digunakan dengan cara ini. Skala penilaian jenis instrumen jelas mengundang subjektivitas, dan yang menarik, tipe ini dipuji dan dikritik karena faktor ini.

Wawancara dan Informal Komentar:
Guru dan Orangtua

Prosedur penilaian yang efektif akan mencari pendapat dari orang dewasa yang bertanggung jawab terkait dengan, dan memiliki tanggung jawab untuk, siswa langsung. Di Ontario, kebanyakan sekolah mengundang dewan guru kelas, dan kadang-kadang asisten pendidikan, untuk bertemu dengan IPRC untuk menyajikan informasi. Sangat sering diskusi tatap muka ini didahului oleh informasi tertulis yang mungkin bervariasi dari bentuk arahan sederhana, untuk informasi anekdotal, untuk suatu studi kasus pembangunan sepenuhnya. Orangtua dapat memberikan informasi penting tertentu untuk menilai atau tim evaluasi. Mereka juga memiliki keuntungan karena mengetahui urutan perkembangan siswa seutuhnya. Peraturan 181 Ontario mensyaratkan bahwa orang tua menjadi bagian integral dari proses ketika seorang anak di dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan khusus.

Informasi Medis
Tes ini hanya ada jika dibutuhkan. Informasi dapat berkisar dari data tentang pendengaran, penglihatan, dan kemampuan fisik, terhadap kesehatan umum dan kondisi neurologis yang mungkin relevan dengan situasi siswa. Data-data ini jika tersedia, akan datang dari profesional kesehatan yang sesuai, mereka hampir tidak pernah diurus oleh dewan sekolah. Pengalaman telah menunjukkan bahwa tanpa kerjasama dan dorongan dari orang tua, data, disertai dengan anjuran untuk tindak lanju yang berguna seringkali sulit didapat. Profesional kesehatan dapat dimengerti waspada terhadap peraturan organisasi tempat ia bekerja tetapi pada saat yang sama, sering menunjukkan keengganan untuk berbagi lebih dengan sekolah dari sekedar informasi yang samar.

Laporan dan Analisis:
Prifessional lain

Untuk alasan yang tidak memerlukan elaborasi di sini, adalah jelas bahwa anggota profesi ilmu ‘perilaku’ dapat menawarkan wawasan yang sangat membantu situasi siswa tertentu. Apa yang harus dipertimbangkan oleh pendidik, namun, ketika menerima informasi dari sumber-sumber ini, jumlah waktu yang proporsional siapa pun dari para penilai telah mampu menghabiskan waktu dengan siswa dan, pada waktu itu, jumlahnya berdasarkan situasi ruang kelas yang sebenarnya. Karena faktor ini, pendidik sering merasa lebih terbantu dengan menggunakan informasi penilaian dari sumber-sumber untuk pemahaman umum tentang sindrom daripada pemrograman tertentu.

Prosedur Penilaian alternatif
Prosedur penilaian alternatif tradisional yang terus-menerus disarankan kepada sistem sekolah. Lima di antaranya diuraikan secara singkat di sini.

Penilaian Autentik
Berdasarkan pada premis bahwa jenis tradisional gagal untuk mengukur kinerja siswa dalam cara yang autentik, tipe ini fokus membentuk penilaian yang lengkap dan 'realistis' gambaran anak tentang apa yang bisa dan tidak bisa ia lakukan. Penilaian autentik yang memungkinkan siswa dapat terlibat dalam cara yang interaktif, dimana mereka dapat mengakses petunjuk dari guru dan teman-teman sebayanya. Fokusnya adalah pada siswa yang memungkinkan untuk menerjemahkan informasi yang telah dipelajari dalam situasi kelas, dan menerapkan pengetahuan dalam cara pemecahan masalah. Jenis penilaian ini dirancang untuk menghasilkan kinerja terbaik siswa berdasarkan interaksi dan praktek.

Portofolio Penilaian
Portofolio adalah kumpulan pekerjaan siswa yang menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan siswa selama jangka waktu tertentu. Alih-alih menjadi karya koleksi serampangan, sampel dikumpulkan secara berkala, sebuah portofolio adalah pengambilan sampel yang representatif. Tujuan dari pengembangan portofolio ada dua: pertama, untuk menyediakan sarana bagi guru untuk mengukur kemajuan/progress siswa, dan kedua (lebih penting), untuk memungkinkan siswa sendiri untuk memonitor dan mengevaluasi pertumbuhan akademisnya, dan dengan demikian membantu untuk membuat keputusan tentang bagaimana tindakan selanjutnya.
Salend (1998) menyarankan pedoman berikut untuk penggunaan penilaian portofolio yang efektif di dalam kelas.
• Mengidentifikasi tujuan dari portofolio.
• Menentukan jenis portofolio yang akan digunakan (showecase, reflektif, kumulatif, berdasarkan tujuan).
• Menetapkan prosedur untuk mengatur itu.
• Pilih rentang kelas otentik yang berhubungan dengan tujuan portofolio.
• Catat item pentinga yang terdapat dalam portofolio siswa.
• Review dan mengevaluasi portofolio secara berkala.

Penilaian Ekologi
Konsep ini mencakup campuran dari metode formal dan informal, bersama dengan evaluasi yang teliti terhadap variabel belajar-mengajar dalam kasus siswa. Idenya adalah untuk memeriksa konteks di mana siswa belajar, serta siswa sendiri. Dengan demikian, hal-hal seperti gaya manajemen guru, kurikulum, strategi pengajaran, dan bahan pengajaran diperiksa; sampel kerja yang dihasilkan oleh siswa dievaluasi, serta keberhasilan dan pola-pola kesalahan di dalam dan di luar sekolah, dll, semua ini di luar penggunaan instrumen tes formal biasa. Sementara itu, sisi yang paling menarik dari penilaian ekologis pada prinsipnya, manajemen, dan faktor-faktor ekonomi membuat sangat sulit untuk dilaksanakan.

Penilaian Gaya Belajar
Yang pada awalnya diterima dengan baik usulan yang ditawarkan tahun 1980-an gagasan bahwa dengan menelaah bagaimana siswa belajar, dan menemukan apa yang kondisional atau memikirkan gaya presentasi yang seperti apa dimana ia belajar paling alami dan efektif, perbaikan kemudian menjadi kasus yang relatif mudah membuat penyesuaian yang tepat ketika dia tidak belajar. Sementara gagasan berhasil dalam meningkatkan perhatian pada pemrograman individualisasi sebagai metode penilaian, ia telah membuktikan sangat kompleks untuk penghargaan itu tahap-tahap perkembangan pertumbuhan mereka, gaya siswa tidak selalu stabil dan karenanya dapat diakses untuk pengukuran yang dapat diandalkan.

Penilaian Dinamis
Feuerstein (1979) dan rekan-rekannya mengusulkan sebuah alternatif yang paling menarik secara konseptual untuk pendidikan khusus. Umumnya kritis terhadap prosedur penilaian tradisional adalah karena kebiasaan menilai siswa statis, yaitu, pada satu titik dan satu waktu, dengan semua kekurangan petugasnya, Feuerstein mengajukan penilaian dinamis. Pada dasarnya, ini adalah tes-tes mengajar-model yang pertama menetapkan subjek akan dinilai untuk mengungkapkan kebutuhan; kemudian mengarahkan pemeriksa untuk berinteraksi secara terus-menerus dengan subjek, mengajarkan isi dan konsep yang dinilai pertama kali dalam upaya untuk mengatasi kebutuhan dan ketiga untuk menilai kembali, untuk melihat apakah subjek ini telah belajar dan untuk mengidentifikasi strategi-strategi apa yang paling berhasil dalam proses. Tesis Feuerstein adalah bahwa hal itu lebih berharga untuk mengetahui apakah dan apa dan bagaimana siswa dapat diajarkan dan strategi apa yang bekerja paling baik dalam pengajaran, daripada sekedar belajar atau telah mengkonfirmasikan apa yang dia tidak bisa dilakukan . Meskipun penilaian dinamis memiliki perusahaan minoritas di Ontario, dan itu tidak mendapat perhatian yang mungkin layak.

Beberapa Masalah dalam Penggunaan Pengujian Formal
Lebih daripada daerah lain dari pendidikan khusus, isu-isu dan masalah penilaian sangat banyak dan saling terkait. Salah satu isu terlimpahkan ke yabg lain dengan cara yang membuat keduanya lebih serius daripada secara individual. Contohnya adalah masalah tes mistik dan isu hanya seberapa akurat adalah gambaran seorang siswa yang dihasilkan tes?

Faktor mistik kuat. Pendidik, termasuk orang-orang yang seharusnya tahu lebih baik, tampaknya bersedia untuk menganggap tes mistik semacam kemampuan untuk membuka jendela ke dalam batin siswa dan cara kerja pikiran. Hasilnya adalah bahwa sebagian pendidik akan sering menunda untuk menguji hasil atau interpretasi dari hasil tes-gambar yang dianggap siswa-bahkan jika bertentangan dengan hasil pengamatan mereka sendiri dan kesimpulan, tiba di atas bulan pengamatan dan analisis. Ironisnya, para profesional yang mengelola dan menafsirkan tes ini jarang mendorong, bahkan mereka biasanya orang-orang yang menunjukkan bahwa instrumen tes formal hanyalah salah satu dari beberapa yang terlihat pada subjek. Namun begitu adalah efek dari hasil tes bahwa hampir semua orang yang terlibat dalam kasus siswa akan, bagaimanapun secara diam-diam, mengakui keunggulannya, dengan efek bahwa pentingnya tes dalam penilaian umum siswa dapat tidak proporsional secara mengejutkan.


Masalah lain adalah konten pengujian dan persoalan bias budaya dan diam-diam diskriminasi terhadap kelompok SES rendah. Produsen tes komersial mengklaim telah meletakkan masalah ini dalam revisi, tetapi perkiraan dari kesuksesan mereka, seperti diterbitkan dalam tinjauan profesional, adalah konserfatif yang terbaik.

Dalam tes yang diberikan kepada kelompok-kelompok, pertanyaan-pertanyaan yang biasanya dirumuskan sehingga jawabannya didapat dari mesin, dengan pilihan ganda untuk yang paling populer. Oleh karena itu, hampir setiap pertanyaan harus ditanggapi dengan satu jawaban terbatas. Seperti struktur mengundang banyak pertanyaan bodoh dan sederhana dan mengabdikan dan berlebihan atau sejumlah ruang, waktu, dan tenaga untuk hal-hal kecil. Tak perlu dikatakan lagi, itu juga meninggalkan ruangan kecil, jika ada, untuk reflektif atau siswa kreatif.

Hal ini tidak aneh, dalam tes bahasa dan membaca, untuk mencari daftar kata-kata tunggal, di luar konteks, untuk dibaca dengan suara keras. (Lihat, misalnya, Wide Range Achiement Test-Revised, 1984.) Daftar ini sering dipisahkan dalam subset di bawah judul seperti 'Pengakuan Kata', dengan hasil ditafsirkan sebagai ukuran umum kemampuan membaca, bukan pengakuan kata saja.
Praktek juga beranggapan bahwa pengujian keterampilan yang terisolasi seperti pengakuan kata mungkin, dan layak dilakukan di tempat pertama.

Dalam tes prestasi khususnya, setiap item cenderung menjadi skor dengan nilai yang sama (biasanya 1 atau 0). Karena biasanya tugas-tugas peningkatannya sulit, Siswa A, yang menjawab dengan benar 16 pertanyaan hingga 20, memperoleh skor yang sama seperti Siswa B, yang benar menjawab pertanyaan satu sampai lima. Item dengan item yang akan mengungkapkan bahwa siswa A dan B memperoleh skor mentah lima dengan rute yang berbeda dianalisis secara hati-hati, tetapi dalam praktiknya, konsumen informasi tes jarang melihat, atau memiliki waktu untuk melihat dan menganalisis item.

Ujian ini biasanya ketat dihitung, dengan semua kesulitan yang menyulitkan
untuk pemikir lambat (belum lagi para pemikir yang mendalam).

Seiring waktu, tes formal yang diproduksi secara komersial telah disebut 'terstandarisasi' (membedakan mereka untuk tes guru yang oleh karenanya implikasinya, adalah tidak terstandarisasi). Banyak konsumen tes telah menerima 'standar' seolah-olah tes ini didasarkan pada standard. Ini tidak terjadi di semua kasus. Hasil tes memang akan dibandingkan dengan skala nilai atau 'norma', tetapi norma-norma ini bukan merupakan standar mutlak; mereka skor-abtained dari populasi uji sampel oleh penerbit untuk membentuk dasar untuk perbandingan. Penerbit biasanya berpendapat bahwa norma-norma mereka mewakili kisaran hasil (dalam kurva lonceng yang sempurna) yang dapat diharapkan dalam populasi normal atau khusus. Mengklaim bahwa terlepas bahwa perbandingan masih relatif; itu tidak standar. Apa yang standar dalam tes formal adlah prosedur administrasi dan penilaian. A tes 'standar' adalah salah satu yang teradministrasi dan menilai dengan cara yang sama setiap waktu, dalam rangka untuk mengurangi gangguan pemeriksa.

Praktek lain yang tersusun dengan baik adalah generalisasi hasil tes. Jika siswa C mengambil tes X dalam pemahaman membaca dan skor nilai equifalen, katakanlah 4,2, hasil tersebut adalah untuk pengujian tertentu. Namun itu adalah latihan yang teratur oleh pendidik untuk membuat asumsi bahwa tingkat membaca siswa mutlak senilai 4,2.

Mudahnya, salah satu elemen dari uji formal yang paling disalahpahami dan diabaikan adalah kesalahan standar pengukuran (SEM). Karena tes benar-benar tidak akurat, subjek skor tidak pernah diketahui secara benar. Nilai yang subjek dapatkan sebenarnya hanya merupakan perkiraan dari nilai sebenarnya. Apa SEM dilakukan kemudian, adalah sebuah statistik refleksi dari seberapa dekat nilai sejati yang diperoleh subyek dari nilai sebenarnya. Jika, misalnya, dia mencetak 110 pada tes dengan 3,8 SEM kemudian sekitar dua pertiga dari waktu, secara statistik, nilai sebenarnya akan jatuh di antara 106,2 dan 113,8. dampak dari SEM dapat menjadi sangat kuat (tidak sedikit karena begitu sering diabaikan). Jika siswa diidentifikasi untuk menjalani program berdasarkan hasil tes, adalah mudah untuk melihat bagaimana penyebarannya. Kelonggaran yang dilakukan oleh SEM, dapat sangat besar.

Secara bersamaan, masalah dari tes formal (tidak semua kesalahan dari tes atau pemeriksa) telah menyebabkan penurunan penggunaannya di Ontario dalam menilai siswa luar biasa. Meskipun tradisi pengujian ini masih sangat kokoh didirikan, sumber alternatif yang lebih sering digunakan, dan cenderung memiliki kredibilitas yang lebih besar daripada yang mereka lakukan. Apa yang masih tersisa untuk pendidikan khusus, setidaknya dalam beberapa yurisdiksi, adalah jurang sempit antara penyelenggaraan penilaian terhadap siswa luar biasa dan pengembangan program mereka.

Studi Kasus
Studi kasus adalah eksekutif singkat yang efisien yang tersusun atas informasi dari sejumlah sumber ke dalam satu dokumen. Dalam situasi di mana kasus siswa luar biasa ini menjadi rumit dari waktu ke waktu - dan banyak berbuat - dan ketika telah melibatkan bermacam personel, sebagian di antaranya mungkin tidak mengenal satu sama lain, atau belum pernah bekerja bersama-sama, studi kasus menyatukan sejarah, status saat ini, dan kebutuhan. Jika ditulis dengan cermat, akan didapati cara yang paling efektif sejauh ini, untuk membawa sekelompok profesional dengan beragam kepentingan hingga mereka tiba pada situasi di mana mereka berbagi tanggung jawab.
Biasanya, sebuah studi kasus pendidikan yang disiapkan oleh guru nominal yang bertanggung jawab untuk siswa yang bersangkutan idealnya, ditulis menurut dua kriteria utama:
• Studi kasus terbaik adalah ringkas. Efektif, maksimal dua halaman jika memungkinkan.
• Studi kasus tidak menghakimi atau membuat pernyataan tetapi laporan evaluatif bersifat fakta.

Studi kasus (lanjutan)
Penting untuk diingat bahwa studi kasus merupakan titik awal. Hal ini ada di pertemuan dimana studi kasus telah disiapkan, dimana penilaian, evaluasi, spekulasi, opini, interpretasi dan seterusnya, yang disiarkan.
Untuk studi kasus dalam pendidikan komponen-komponen berikut yang paling sering diplihi:
I. Data demografis
II. Keterangan atau isu pendidikan
III. Sejarah keluarga
IV. Fisik dan status kesehatan
V. Sosial dan perilaku
VI. Laporan tambahan
VII. Penilaian data
VIII. Program dan penempatan terkini
IX. Rekomendasi. (bagian ini biasanya tidak terselesaikan sampai diskusi telah selesai diselenggarakan dan keputusan telah dibuat untuk langkah berikutnya).

I. Untuk alasan privasi, jumlah data demografis biasanya terbatas untuk hal-hal penting, termasuk unsur-unsur seperti nama dan alamat, usia, tanggal lahir, sekolah, dan penempatan, dan nama orang tua.
II. Masalah pendidikan merupakan jantung dari studi dan harus memberikan pembaca esensi dari situasi. Rincian yang mengembangkan atau menjelaskan biasanya dimasukkan dalam bagian yang berbeda.
III. Tepatnya, informasi yang berguna tentang keluarga seringkali sangat membantu tetapi karena alasan privasi, penulis studi kasus harus berhati-hati terhadap sisi kekurangan daripada kelebihannya - kecuali jika situasi keluarga, dalam pendapat penulis merupakan faktor utama.
IV. Informasi tentang pembangunan fisik yang disertakan hanya jika erat terkait. Dimana itu bukanlah sebuah isu, janganlah disertakan pada studi kasus.
V. Dalam beberapa studi kasus, bagian tentang perilaku dan masalah-masalah sosial akan membutuhkan beberapa detail. Penulis studi kasus, bagaimanapun, harus berhati-hati untuk menghindari drama dan tetap berpegang pada fakta-fakta yang relevan.
VI. Laporan tambahan biasanya mencakup data medis, laporan dari sekolah atau lembaga lain, dan lain-lain dalam beberapa studi kasus, itu hanya cukup untuk menyatakan bahwa laporan ini telah dibuat, dan kemudian jika mungkin, menunjukkan di mana aslinya mungkin tersedia.
VII. Penilaian data biasanya produk tes. Penting untuk melibatkan mereka, tetapi sering, karena peraturan privasi, mereka mungkin tidak akan tersedia bagi penulis studi kasus. Jika mungkin, bahwa penulis harus mencoba untuk menentukan tes apa yang diberikan, yang di bawah otoritas dan kapan melaksanakannya. Paling tidak, penulis harus dapat menyatakan apakah tes itu diberikan atau tidak.
VIII. Penjelasan program tidak perlu terprinci. Biasanya ikhtisar sudah cukup.
IX. Rekomendasi biasanya tidak dibuat jika studi kasus akan maju ke tim sekolah atau komite. (Di sisi lain, jika studi ini tidak akan maju, maka bagian ini menjadi tujuan seluruh aktivitas)

18 Oktober 2009

Paradigma Baru Manajemen Pendidikan

Paradigma atau pandangan umum tentang pendidikan di masa lalu, kini dan yang akan datang merupakan sesuatu yang sangat dinamis. Oleh karena itu kita harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang terjadi agar terjadi relevansi dalam berpikir, merencanakan dan mengelola pendidikan, khususnya di Indonesia. Sehingga pada akhirnya, pendidikan dapat melahirkan orang-orang yang berkualitas dan berdaya saing.


Sebuah paradigma erat dikaitkan dengan trend atau hal yang populer menyebar dan menjadi bagian dari hidup masyarakat kebanyakan. Trend masa lalu yang beranggapan bahwa pendidikan hanya seputar IQ, kecerdasan akademis, logika, dimana yang mendapat peringkat satu di kelas adalah anak yang cerdas dan akan menuai kesuksesan, sementara yang berada di peringkat bawah adalah anak bodoh dan calon gagal. Sehingga pendidikan dikelola sedemikian rupa agar peserta didik mampu mencapai nilai tinggi di kelas. Pendidikan pun seolah hanya persaingan di kelas saja atau mungkin hanya sampai level sekolah. Terkait materi pelajaran pun, peserta didik seperti dituntut untuk menguasai seluruh mata pelajaran dengan baik. Sebuah paradigma yang masih sangat kaku.


Sementara paradigma baru tentang pendidikan beranggapan bahwa kecerdasan sangat banyak jenisnya. Tidak hanya IQ, namun ada kecerdasan numerik, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan linguinis, kecerdasan emosional dan spiritual, dll. Sehingga tidak lagi ada anggapan bahwa peserta didik yang tidak menonjol dalam akademis adalah anak bodoh dan calon gagal, tapi bagaimana para pendidik berusaha menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki anak tersebut. Ada sebuah keyakinan bahwa: "anak ini pasti memiliki sebuah spesialisasi kecerdasan tertentu". Mulailah bermunculan kegiatan ekstrakurikuler sebagai salah satu bagian dari proses pengelolaan pendidikan dalam upaya mengembangkan potensi, minat dan bakat peserta didik yang berbeda-beda. Pengelolaan pendidikan pun berorientasikan hasil, yakni keahlian atau spesialisasi. Persaingan pun sudah mulai dipahami sebagai persaingan yang global dimana peserta didik menganggap bahwa peserta didik di luar sekolah dan daerahnya juga merupakan kompetitor/rival mereka, bahkan pada tingkat yang lebih tinggi lagi, persaingan internasional. Dalam pandangan ini pendidikan tidak hanya mengajarkan persaingan, tetapi juga sportifitas dan kejujuran.


Transparansi dalam hal pengelolaan pendidikan seakan sudah menjadi keharusan. Pengelolaan yang sebelumnya tertutup, kini akan menuai banyak kritikan dan tuntutan dari masyarakat yang sudah semakin cerdas dan kritis. Dibutuhkan pengelolaan yang terbuka dimana setiap orang yang terlibat di dalamnya dapat mengetahui bagaimana pendidikan itu sebenarnya.


Sejanjutnya adalah keahlian atau spesialisasi. Pendidikan sudah mulai memikirkan bagaimana menghasilkan tenaga-tenaga ahli untuk menyelesaikan tantangan masa depan yang amat kompleks. Karena spesialisasi merupakan harga yang sangat mahal melihat tidak semua orang memiliki itu.


Paradigma baru manajemen pendidikan selalu menilai segala sesuatu secara profesional. profesionalitas seseorang tidak kalah pentingnya dengan spesialisasi. Karena dari pekerjaan yang dilakukan dengan profesional, orang-orang akan paham bahwa kita adalah orang yang tepat, itu pun memiliki value yang sangat besar. Bagaimana seseorang memiliki tanggung jawab dan amanah yang besar untuk melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya, ikhlas, sabar dan senantiasa melakukan peningkatan kualitas.


Pendidikan tidaklah kaku, melainkan dinamis. Di mana dalam melaksanakannya sangat banyak aspek yang mempengaruhinya, perkembangannya pun tidak tetap. Tidak semua daerah memiliki input, lingkungan, dan fasilitas yang sama sehingga memerlukan inovasi-inovasi dan penyesuaian dalam mengelolanya. Sebagai manajer pendidikan haruslah berani berinvestasi dalam pendidikan baik dalam hal materi maupun pemikiran. Inovasi sangat dibutuhkan walaupun terkadang harus menyelisihi aturan yang sudah ada. Dalam mengelola pendidikan haruslah berani berkreasi, melakukan percobaan dan penelitian perihal pola pendidikan yang tepat untuk diterapkan, dan terkadang dalam prosesnya akan membuat kesalahan-kesalahan. Pendidikan harus senantiasa berkembang mengikuti perkembangan zaman, dengan penuh optimisme dan kepercayaan diri yang tinggi menyambut segala resiko yang akan dihadapi.


Di tengah-tengah zaman dimana batasan-batasan negara tak lebih dari hanya sekedar pembatas secara geografis, lingkungan menjadi sangat global. Di samping itu terkadang kita dihadapkan dengan sebuah pola kehidupan yang masih konvensional dan kental dengan originalitas budaya yang menyebabkannya tidak tersentuh oleh globalisasi. Oleh karenanya, kita dituntut untuk dapat beradaptasi di segala situasi dan kondisi agar kita mampu bertahan hidup dan diterima oleh banyak orang.


Sekurang-kurangnya terdapat tiga buah tuntutan SDM masa depan: (1) Pengetahuan/wawasan global, (2) Keterampilan global, (3) Sikap/perilaku. Pengetahuan/wawasan global menuntut kita untuk berorientasi pada solusi, inovasi dan kreatifitas. Keterampilan global menuntut kita untuk dapat berkomunikasi dengan baik di literatur budaya yang berbeda, mampu menguasai teknologi, dan mampu mengendalikan emosi dengan baik. Tuntutan sikap/perilaku diantaranya dinamis, fleksibel, inisiatif, proaktif, inovatif dan mandiri.

Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik

Manajemen Peserta Didik merupakan gabungan dari dua makna. Makna yang pertama adalah manajemen yang berarti segenap proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian dan pengawasan segala upaya pemberdayaan sumberdaya yang ada untuk mencapaian tujuan secara efektif dan efisien. Makna yang kedua adalah peserta didik, yang berarti anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri dan potensi melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur (formal, nonformal, informal), jenjang (dasar, menengah, tinggi) dan jenis pendidikan (umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, khusus) tertentu.

Tiga jalur dalam pendidikan saling melengkapi dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan. Jalur formal dalam pendidikan biasa dikenal sebagai pendidikan sekolah. Jalur formal memiliki jenjang pendidikan yang jelas, diantaranya: pendidikan dasar (SD/MI), menengah (SMP/MTs dan SMA/SMK/SMEA/MA), dan tinggi. Sedangkan jalur pendidikan non formal merupakan jalur pendidikan yang tetap jelas jenjangnya namun sifatnya tidak terlalu mengikat dan formal layaknya pendidikan persekolahan, misalkan bimbingan belajar atau kursus. Jalur informal, pendidikan yang dilakukan di dalam keluarga, merupakan aspek yang dianggap penting dalam pembekalan awal peserta didik dalam menempuh proses pendidikan di dua jalur lainnya.

Sekurang-kurangnya Manajemen Peserta Didik memiliki dua fungsi utama sebagaimana fungsi manajemen pada umumnya. Fungsi pertama adalah fungsi manajerial yang terdiri dari Planning, Organizing, Actuating, dan Controling atau biasa disingkat dengan POAC. Fungsi manajerial ini merupakan fungsi pokok dalam manajemen. Artinya fungsi manajerial (POAC) diterapkan dalam berbagai aspek yang dikerjakan dalam pengelolaan peserta didik. Fungsi ini dikomandoi oleh seorang manajer atau pimpinan baik pada suatu organisasi maupun pada bagian/divisi dari organisasi itu sendiri. Fungsi yang kedua adalah fungsi operasional, diantaranya: rekruitmen, seleksi, penempatan, orientasi, pengembangan, BK, layanan tambahan, pemberhentian, sistem informasi kesiswaan. Dapat dipahami bahwa fungsi operasional merupakan pelaksanaan tiap tahap/variabel dan bagian dalam upaya pencapaian tujuan manajemen.

Fungsi manajerial yang pertama adalah perencanaan. Dalam perencanaan manajemen harus menetapkan hal utama yaitu tujuan dan arah. Setelah menentukan tujuan dan arah: “kemana peserta didik akan dibawa”, barulah membuat keputusan perihal alternatif apa yang akan diambil mengingat sangat banyak cara dan pilihan untuk mencapai tujuan. Beberapa hal yang ditentukan dalam tahap perencanaan diantaranya: strategi, kebijakan, program, prosedur, metode, sistem, anggaran, standar yang dibutuhkan. Bagaimana strategi untuk mencapai tujuan, kebijakan apa yang ditempuh, program seperti apa yang akan dilaksanakan, apa saja tahapan-tahapan yang mesti dilalui, metode seperti apa yang digunakan, berapa perhitungan biayanya, serta menetapkan standard seperti apa yang dianggap sebagai sebuah keberhasilan pencapaian tujuan manajemen.

Setelah perencanaan selesai, dilanjutkan dengan pengorganisasian. Bagaimana seorang manajer dan jajarannya dapat menetapkan sumberdaya apa yang akan digunakan, membentuk sebuah tim kerja yang solid dengan pembagian tugas (job description) yang jelas, serta pengaturan alur kerja yang jelas dan rapih sehingga nanti tidak ada overlapping dalam pelaksanaanya.

Setelah rancangan perencanaan dan pengorganisasian telah rampung, dilakukanlah pengarahan terhadap jajaran dan anggota organisasi tentang apa dan bagaimana masing-masing pekerjaan dilakukan. Dalam fungsi pengarahan ini seorang manajer harus mampu membuat orang mau bekerja dan dapat mengkomunikasikan arahan-arahannya dengan baik kepada jajarannya agar mudah ditangkap dan dicerna. Artinya ia harus memiliki kecakapan dalam hal komunikasi interpersonal. Tak lupa motivasi juga harus diberikan kepada jajarannya serta yang terakhir adalah bagaimana ia mampu menanamkan kedisiplinan dalam bekerja.

Bersamaan dengan dijalankannya pekerjaan setelah perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan dilakukan, diperlukan pengawasan terhadap kinerja organisasi (controlling). Dala, fungsi pengawasan ini, pekerjaan diawasi, apakah sesuai dengan rencana, apakah tujuan tercapai, apakah terjadi penyimpangan, dll. Sehingga kualitas kinerja dapat dihasilkan secara maksimal.

Hal-hal yang sekiranya akan dikelola dengan fungsi POAC ini diantaranya adalah rekrutmen. Bagaimana agar masyarakat tertarik untuk mendaftar di lembaga pendidikan yang kita kelola. Publikasi, iklan, sosialisasi, dll. Selanjutnya seleksi. Dalam seleksi peserta didik, harus ditetapkan siapa sasarannya, bagaimana proses seleksinya, apa standard input-dalam hal ini peserta didik-yang diinginkan, dll. Setelah murid yang diinginkan sudah terseleksi sesuai standard, tidak berhenti di situ, tapi peserta didik ditempatkan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, semisal pembagian kelas berdasar tingkat pemahaman, manajemen kelas, penjurusan, dll. Langkah selanjutnya orientasi. Peserta didik diperkenalkan dengan lingkungan belajarnya. Mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan, teman-teman, fasilitas-fasilitas sekolah, hingga tata tertib. Kita juga harus memikirkan bagaimana pengembangan potensi peserta didik dilakukan, semisal ekstrakurikuler yang merupakan pengembangan minat dan bakat atau OSIS yang melatih kecakapan peserta didik dalam berorganisasi. Konseling sangat diperlukan karena pasti akan ada konflik yang terjadi pada peserta didik baik dengan diri sendiri, teman sebayanya, guru atau bahkan orangtuanya. Fasilitas dan layanan untuk pesera didik juga perlu diperhatikan, seperti beasiswa, tempat ibadah, UKS, kantin, lapangan olah raga, dll. Manajemen juga harus siap dalam menghadapi keadaan ketika peserta didik mengajukan atau diharuskan untuk sign out yang bisa terjadi lantaran drop out, pindah, maupun lulus. Hal yang terakhir adalah sekiranya dalam pengelolaan peserta didik, semua didukung dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada. Semua harus teratur dalam sebuah sistem informasi yang jelas. Sehingga arsip-arsip tentang peserta didik dan pengelolaannya dapat tertata dengan rapih dan aman.

Psikologi Perkembangan

Terdapat perbedaan yang mendasar antara pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan bersifat kuantitatif (fisik/biologis), sedangkan perkembangan bersifat kualitatif (psiko/mental/rohani). Setiap manusia mengalami keduanya. Mereka tumbuh dari mulai bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia. Semua orang relatif sama dalam hal pertumbuhan, namun tidak halnya pada perkembangan. Perkembangan sulit diukur. Tidak ada ukuran pasti tentang perkembangan. Seseorang yang sudah memasuki umur dewasa terkadang masih bermental anak-anak dan seseorang yang baru memasuki umur remaja terkadang sudah sangat dewasa dalam berpikir dan bersikap.

Perihal Pertumbuhan dan Perkembangan ini sangat penting karena pendidik harus mampu menganalisa dan memahami setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, karena itu akan sangat mempengaruhi treatment yang akan di berikan. Hal ini akan berpengaruh pula pada materi, pendekatan, media, metode, dan teknik belajar yang digunakan.

Pertumbuhan dan perkembangan memiliki kebutuhan primer dan sekunder dalam tiap tahapnya. Kebutuhan primer adalah kebutuhan utama yang dibutuhkan seseorang pada tahapan pertumbuhan dan perkembangan tertentu. Sementara kebutuhan sekunder merupakan kebutuhan tambahan atau pendukung dari kebutuhan pokok.

Kebutuhan primer manusia saat bayi lebih kepada alat-alat geraknya/kinestetik. Karena tubuh dan organ-organnya belum sempurna betul. Sehingga pendidikan yang diterapkan dibarengi dengan gerakan-gerakan aktif yang menyenangkan. Semakin dewasa, kebutuhan seorang manusia lebih kepada kebutuhan psikologi dan mental, bukan lagi kinestetik, oleh karena itu pada pola pendidikannya orang-orang yang sudah mulai dewasa lebih dihadapkan dengan tulisan-tulisan ketimbang gambar-gambar, wacana-wacana studi kasus ketimbang ceramah satu arah. Upaya pencarian jati diri sangat keras dilakukan oleh orang yang mulai beranjak ke dewasa awal. Obsesi untuk mengatakan kepada dunia siapa dirinya sangatlah besar.

Terdapat perbedaan yang jelas antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang wajib dipenuhi. Ada resiko yang setimpal jika kewajiban/tuntutan itu tidak dipenuhi. Sehingga dalam upaya pemenuhannya, seseorang akan berusaha dengan amat keras dan seseorang bisa lebih memaknainya jika kebutuhan itu tercukupi. Sedangkan keingingan merupakan sesuatu yang amat sangat diharapkan oleh seseorang, walau seringkali sebenarnya ia tidak butuh hal tersebut.

Aliran-aliran dalam psikoper

Teori Gestaalt mengatakan bahwa perkembangan itu adalah proses diferensiasi, yang penting itu adalah keseluruhan. Keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul bagian-bagian. manusia sudah dilihat secara keseluruhan dari awal. Jadi yang disebut sebagai manusia adalah manusia yang utuh. Manusia yang tidak utuh bukanlah manusia.


Teori Sosiologi menyatakan bahwa perkembangan merupakan proses sosialisasi. Anak manusia mula-mula bersifat asosial (pra-sosial) lalu sedikit demi sedikit di sosialisasikan. Jadi yang disebut manusia adalah manusia yang bersosialisasi dengan manusia lainnya. Dalam hal ini berarti tarzan bukanlah manusia, karena ia tidak bersosialisasi dengan manusia lain.

Perkembangan Intelektual Remaja

Deduktif Hipotesis

  • Mengawali pemikiran bersifat teoritis
  • Menganalisis masalah
  • Mengajukan cara penyelesaian masalah
  • Mengajukan pendapat/prediksi/proporsi
  • Mencari hubungan antara proporsi

Berpikir operasional dan kombinasoris, berarti melakukan pengujian hipotesis dan berpikir ilmiah dan sistematis.



Memahami perkembangan diatas sangat penting untuk menentukan cara mendidik. Implikasinya pada pendidikan:

  1. Memberi kesempatan untuk diskusi, memberikan tugas penulisan makalah.
  2. Mengamati kecenderungan siswa untuk partisipasi.
  3. Jangan batasi pengetahuan mereka dan kecakapan untuk memanfaatkan apa-apa yang diketahui.
  4. Kadang kesulitan menangkap konsep-konsep yang sifatnya abstrak.
  5. Diskusi dapat membantu meningkatkan pemahaman.
  6. Guru perlu menjelaskan konsep yang abstrak secara simpatik (mencoba memahami karakter tiap orang, dan melakukan pendekatan yang tepat).
  7. Beri peluang untuk melakukan penjelajahan (ada pengarahan terlebih dahulu dari pendidik).
  8. Berikan tugas menantang, problem-based learning (sebelumnya pendidik harus bisa memprediksi bahwa peserta didik mampu mengerjakan tugas itu).
  9. Diusahakan munculnya minat jangka panjang yang relevan dengan kehidupan masa depan dan ada implikasinya pada pekerjaan.
  10. Materi pelajaran mengandung nilai-nilai intrinsik yang bermakna bagi kehidupan.
  11. Pembelajaran hendaknya melibatkan siswa secara aktif.
  12. Berikan peluang berekpresi dan berkarya pada peserta didik.
  13. Metode pembelajaran-ketrampilan proses, inquiri/penemuan.

Perencanaan Peserta Didik

Berbicara tentang perencanaan, berarti membicarakan waktu yang akan datang. Kita harus menentukan tujuan dan harapan tentang kejadian yang akan terjadi di masa yang akan datang. Perencanaan berarti memilih. Memilih satu yang terbaik dari sekian banyak alternative yang ada. Perencanaan berarti sistematis atau menggunakan langkah-langkah dan prinsip-prinsip yang sesuai. Kita melakukan perencanaan pasti untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara efektif dan efisien.

Dalam perencanaan, kita menentukan tindakan apa yang akan diambil, strategi dan metode apa yang akan digunakan, seperti apa mekanisme pelaksanaannya, prakiraan biaya, serta penggunaan waktu, untuk mengelola peserta didik yang di dasarkan atas data dengan memperhatikan prioritas yang wajar, bersifat efisien untuk tercapai tujuan pendidikan.

Budgeting di lakukan karena memang dalam pengelolaan pendidikan, khususnya peserta didik memerlukan biaya dan biaya itu harus direncanakan agar efektif dan efisien. Bagaimana kita merencanakan pendidikan dengan biaya yang seefisien mungkin, namun berkualitas dan memiliki efektifitas tinggi dalam mencetak lulusan-lulusan yang kompeten. Dalam perencanaan juga harus memperhitungkan masalah waktu, perihal kapan akan dilaksanakan perencanaan tersebut. Jangan sampai rekruitmen sebagai tahap awal pengelolaan peserta didik menjadi gagal total hanya karena salah menempatkan waktu pendaftaran.

Alasan mengapa kita perlu melakukan perencanaan adalah karena kita harus memilih. Setelah tujuan pengelolaan peserta didik ditetapkan, masalah selanjutnya adalah apa yang akan dilakukan untuk mewujudkan tujuan tersebut? Kapan harus dikerjakan? Siapa yang mengerjakan? Di mana kita mengerjakannya? Bagaimana melakukannya? Perencanaan menjawab itu semua. Perenacanaan menetukan apa yang dapat dikerjakan atau apa yang mesti kita lakukan. Perencanaan menentukan kapan pekerjaan kita bisa dikerjakan. Perencanaan menentukan bagaimana cara mengerjakannya. perencanaan menentukan siapa yang mengerjakan. Perencanaan memperhitungkan berapa biaya yang dibutuhkan. Dan perencanaan menentukan dimana pekerjaan itu akan dilakukan.

Dalam merencanakan pengelolaan peserta didik, kita harus memperhatikan faktor dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal).

Internal Resource analysis

  • Financial. Apakah modal sudah ada? Apakah ketersediaan modal sudah sesuai dan realistis dengan perencanaan dan goal yang ingin dicapai?
  • Human Resource Assesment. Bagaimana kita menilai SDM yang telah kita miliki, apakah mereka sudah cukup capable untuk melaksanakan kegiatan pengelolaan tsb.
  • Marketing Audit. Melakukan checking terhadap keuangan dan efektifitas melalui cash flow.
  • Operation analysis. Menganalisis kegiatan operasional mulai dari penerimaan, seleksi, penempatan, orientasi, pembelajaran, pengembangan, hingga pembiayaan.
  • Other internal resource or research & deveploment.


Faktor Eksternal

  • Industry dan Market. Harus memahami psikologi pasar dan industri. Lihat pendidikan macam apa yang masyarakat butuhkan.
  • Competitor/Pesaing. Dengan memperhatikan pesaing-pesaing kita, kita dapat menentukan kebijakan yang inovatif dan berbeda untuk lebih mendapatkan perhatian dari masyarakat tanpa mengurangi kualitas pelayanan pendidikan, tentunya.
  • Political dan Regulatory/kebijakan. Dalam mengelola pendidikan kita mesti berkiblat pada peraturan dan perungang-undangan yang ada agar dalam pelaksanaannya nanti tidak berselisih dengan hukum.
  • Social. Kita harus melihat bagaimana kondisi dan lingkungan sosial yang ada dalam pengambilan kebijakan.
  • Human Resource. Kita juga harus pertimbangkan bagaimana caranya mendapatkan sumber daya manusia yang kompeten dan profesional untuk mendukung keberhasilan pengelolaan pendidikan.
  • Macro economic. Kita harus mengetahui sekmen apa yang menjadi sasaran pembuatan sekolah nanti. Kita harus melihat dari sisi ekonomi. Bagaimana tingkat ekonomi masyarakat? Selanjutnya, bagaimana menciptakan pendidikan yang terjangkau oleh masyarakat?
  • Technological. Pengelolaan mesti mengikuti perkembangan zaman yang ada, terutama dalam hal teknologi agar dapat memudahkan kita dalam mengelola peserta didik.

Muatan dalam Perencanaan Pendidikan diantaranya: strategi, kebijakan, program, prosedur, metode, sistem, anggaran, standar yang dibutuhkan. Bagaimana strategi untuk mencapai tujuan, kebijakan apa yang ditempuh, program seperti apa yang akan dilaksanakan, apa saja tahapan-tahapan yang mesti dilalui, metode seperti apa yang digunakan, berapa perhitungan biayanya, serta menetapkan standard seperti apa yang dianggap sebagai sebuah keberhasilan pencapaian tujuan manajemen.

Sedangkan materi-materi yang ada dalam perencanaan diantaranya rekruitmen. Bagaimana agar masyarakat tertarik untuk mendaftar di lembaga pendidikan yang kita kelola. Publikasi, iklan, sosialisasi, dll. Selanjutnya seleksi. Dalam seleksi peserta didik, harus ditetapkan siapa sasarannya, bagaimana proses seleksinya, apa standard input-dalam hal ini peserta didik-yang diinginkan, dll. Setelah murid yang diinginkan sudah terseleksi sesuai standard, tidak berhenti di situ, tapi peserta didik ditempatkan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, semisal pembagian kelas berdasar tingkat pemahaman, manajemen kelas, penjurusan, dll. Langkah selanjutnya orientasi. Peserta didik diperkenalkan dengan lingkungan belajarnya. Mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan, teman-teman, fasilitas-fasilitas sekolah, hingga tata tertib. Kita juga harus memikirkan bagaimana pengembangan potensi peserta didik dilakukan, semisal ekstrakulikuler yang merupakan pengembangan minat dan bakat atau OSIS yang melatih kecakapan peserta didik dalam berorganisasi. Konseling sangat diperlukan karena pasti akan ada konflik yang terjadi pada peserta didik baik dengan diri sendiri, teman sebayanya, guru atau bahkan orangtuanya. Fasilitas dan layanan untuk pesera didik juga perlu diperhatikan, seperti beasiswa, tempat ibadah, UKS, kantin, lapangan olah raga, dll. Manajemen juga harus siap dalam menghadapi keadaan ketika peserta didik mengajukan atau diharuskan untuk sign out yang bisa terjadi lantaran drop out, pindah, maupun lulus. Hal yang terakhir adalah sekiranya dalam pengelolaan peserta didik, semua didukung dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada. Semua harus teratur dalam sebuah sistem informasi yang jelas. Sehingga arsip-arsip tentang peserta didik dan pengelolaannya dapat tertata dengan rapih dan aman.

19 September 2009

Profil Diri

Saya adalah seorang anak laki laki berumur 18 tahun, akan menjadi 19 di tanggal 29 Oktober nanti. Tinggi badan saya 170 cm (kurang lebih), berat badan 65 kg (kurang lebih). Kondisi fisik bugar, kuat. Mantan perokok setelah 3 tahun menghisapnya. Saya baik dalam hal komunikasi namun terkadang egois, keras kepala dan orotiter. Mungkin karena obsesi pemimpin yang ada pada diri saya. Berpenampilan baik dan menarik. Saya anak ke-2 dari 4 bersaudara. Menyukai belajar, mengajar, sepak bola (saya adalah top score MP 2008 dalam pertandingan-pertandingan eksternal), baca comic naruto. Saya cukup mahir bermain gitar, menyukai musik terutama alternative rock (Alter Bridge, Creed, Nickleback, Puddle of Mud, Audioslave), Iwan Fals, Jamrud dan PADI. Saya berasal dari keluarga sederhana, bahkan berkekurangan (dulu) hingga usaha yang keras dari ayah saya dan izin dari Allah mengubah kondisi ekonomi kami semakin membaik dan jauh lebih baik untuk sekarang. Alhamdulillah..

Ayah saya lahir di Jakarta, besar di Poncol, dekat Senen. Achmadin namanya. Prihatin saat berkunjung untuk silaturahim ke sana. Sedih. Bangga dan terharu melihatnya sekarang. Ia tetap down to earth dengan kondisinya yang sekarang. Berangkat dari sebuah daerah kumuh, anak tunggal dari Muhammad Kasam bin Chakradinata dan Niot bin Karsijah ini menuntut ilmu di SMAN 1 Budi Utomo, favorit dan unggulan saat itu. Sebelum mendapat gelar SHI (Sarjana Hukum Islam), ia pernah merasakan berdagang baju, minyak tanah, minyak goreng, ketoprak, gado-gado, jualan koran, membantu mencuci piring jika ada kondangan/hajatan, dan banyak lagi. Beliau aktifis sejati hingga pernah berurusan dengan polisi. Semua itu adalah proses hingga sekarang ia memiliki kepercayaan untuk menjadi Manajer HRD di Hotel Sofyan, Ketua Yayasan Amal Mulia yang bergerak di bidang Sosial dan Pendidikan, hingga Direktur Sekolah Internasional, Madina Islamic School di Tebet. Kesuksesannya tak lepas dari wanita yang dinikahinya tepat 20 tahun yang lalu pada tanggal 19 Oktober nanti. Wanita mulia ini bernama Sri Maryati. Ibu rumah tangga, apik, kuat, cekatan, tidak banyak mengeluh dan menuntut, baik, membantunya mengelola Yayasan, jago masak, tegar, tidak cengeng. Putri dari pasangan Makmur Abdul Kharis dan Sarminatun ini merupakan anak ke-3 dari 8 bersaudara. Sama seperti ayah saya, ia pun berasal dari keluarga yang sederhana pula. Bisa dibayangkan, kehidupan sebuah keluarga dengan 8 anak, dipimpin oleh seorang PNS yang bekerja di Kejaksaan. Saya telah menumpang di rahimnya selama 9 bulan tanpa tarif, disapih 2 tahun tanpa tarif pula. Bisa saja ia membuang saya saat itu, tapi tidak dilakukannya. Yah, walaupun saya sering kali merepotkannya, menjambak rambutnya, menggigitnya, mengencinginya, mengganggu nyenyak tidurnya, dll.

Mereka sangat berjasa dengan menghidupi dan menyekolahkan saya di SDIT Al-Fatihah, Condet, kelas 1 sampai 3. Saya tidak pernah keluar dari peringkat 3 besar di sana. Setelah itu kami pindah ke Depok dan menetap di sana hingga saat ini. Saya melanjutkan pendidikan saya di SDN Sindangkarsa 1, kelas 4 sampai 6. Saya tidak berprestasi di sini dikarenakan masalah adaptasi hingga nilai matematika saya 4. Memilih SMP Negeri terdekat, dimasukkanlah saya di SMPN 11 Depok, kelas 1 sampai 3. Prestasi akademik tidak terlalu mencolok. Selalu masuk di kelas unggulan dan menutup pendidikan di sana dengan nilai total UN tertinggi ke-3 dan nilai UN bahasa Inggris tertinggi pertama se SMPN 11 Depok tahun 2005. Prestasi terasa mulai lebih gemilang saya rasakan ketika mulai mengenakan seragam putih abu-abu. Bersebelahan tempat dengan SMPN 11 Depok, saya masuk SMAN 4 Depok dengan urutan teratas (nomor 1) dari kurang lebih 800 siswa mendaftar. Tahun pertama saya mulai dengan menjadi ketua kelas 10.1 serta sebuah gebrakan pertama sepanjang sejarah SMAN 4 Depok dengan menjadi Wakil Ketua OSIS II. Saya juga aktif di ROHIS, BASKET, PLASMA 4 Depok (Petualang dan Pecinta Alam 4 Depok). Di tahun kedua saya mengambil jurusan IPA dan menjadi Ketua OSIS serta kadiv Syiar Islam di ROHIS saat itu. Gebrakan yang saya lakukan kepada OSIS di tahun kedua saya adalah pengadaan almamater+pin OSIS&MPK SMAN 4 Depok untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Menutup tahun ketiga dengan menjadi Siswa Berprestasi SMAN 4 Depok dan dengan nilai UN tertinggi pertama di SMAN 4 Depok untuk jurusan IPA bagi saya adalah sebuah pembuktian dari eksistensi seorang aktivis di dunia akademis.

Saya yang sekarang adalah seorang mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta tahun 2008, Join dengan lembaga legislatif kampus. Aktif dalam Forum Alumni ROHIS SMAN 4 Depok, menjadi pembina anak asuh di Yayasan Amal Mulia yang ayah saya pimpin, dan sebuah rekor nasional saya pecahkan ketika saya berumur 17 tahun, tepatnya setelah lulus, sebelum kuliah. Saya secara legal menjadi tentor (pengajar) dan guru privat bimbingan belajar PRIMAGAMA termuda seIndonesia tanpa KKN. Sebuah lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1986. Saya mengajar matematika SD, SMP dan SMA di tahun pertama. Prestasi akademik di perkuliahan diantaranya saya mendapat IPK tertinggi di kelas di tahun pertama saya kuliah. Alhamdulillah.. semoga saya bisa mempertahankan dan mengembangkan ini semua.