Tampilkan postingan dengan label MPD (Manajemen Peserta Didik). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MPD (Manajemen Peserta Didik). Tampilkan semua postingan

06 Januari 2010

Kreativitas dan Kecerdasan Emosi

Kreativitas
Kreativitas merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau berkreasi (Olson)., Kreativitas adalah proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, baik gagasan maupun objek dalam suatu bentuk susunan baru (Churlock). Menciptakan suatu ide baru merupakan tolak ukur secara umum konsep dasar kreativitas yang dimiliki sesorang.
Menurut Evan, kreativitas itu adalah keterampilan untuk menemukan sesuatu yang baru. Memandang subjek dari perspektif yang baru, dan membentuk kombinasi yang baru dari 2 atau lebih suatu konsep. Kreatif tidak harus hal yang baru. Melihat hal lama dengan perspektif yang baru dan memodifikasinya, mengkombingasikannya dengan konsep yang lain juga merupakan kreativitas.

Pola dasar kreativitas:
I = Imajinasi
D = Data
E = Evaluasi
A = Aksi

Orang kreatif memiliki daya imajinasi yang tinggi, karena tanpa imajinasi kreativitas tidak akan terbangun. Kreativitas memerlukan data-data sebagai modal untuk berekspresi dan berkreasi. Setelah data terkumpul lakukan evaluasi terhadap kreativitas kita, sejauh mana modifikasi bisa dilakukan, dilihat dari segi ketersediaan bahan, biaya, waktu, efisiensi energi, dll. Terakhir, setelah menetapkan kreativitas berdasarkan hasilevaluasi data, baru beraksi.

Seorang yang kreatif bercirikan: bebas dalam berpikir, penuh daya imajinasi, bersifat selalu ingin tahu, suka pengalaman baru, penuh inisiatif, bebas dalam berpendapat, punya minat yang luas, percaya diri akan apa yang dilakukan, tidak mudah menerima dengan mudah apa yang disuguhkan orang kepadanya, berani mengambil resiko, menyukai tugas yang majemuk, sifatnya ulet dan tidak cepat merasa bosan.

Penyebab dari rendahnya kreativitas adalah cara berpikir yang konvergen,yakni menganggap hanya ada satu cara yang tepat untuk digunakan dan wawasan yang kurang luas dalam melaksanakan imajinasi/kreativitas yang sudah diperoleh.

Daya dari kreativitas itu bisa melemah karena takut mengubah kebiasaan, takut berbuat salah dan ditertawakan.

Kreativitas dapat ditingkatkan dengan cara :
1. Menjelajahi pikiran kita secara terus menerus dan terbuka dengan berbagai gagasan
2. Mengembangkan pertanyaan, mengembangkan sikap kritis kita, dengan begitu kita dapat berpikir dengan tidak biasa
3. Kembangkan gagasan sebanyak-banyaknya
4. Mengembangkan cara baru untuk melakukan sesuatu keluar dari zona aman.
5. Berani mengambil resiko dengan apa yang akan dilakukan.
6. Gunakan imajinasi
7. Isilah sumber inspiratif dengan relaksasi


Kecerdasan Emosional

Emosi sering dianggap sebagai sesuatu yang negatif dan merusak, maka harus dijauhkan bahkan dihilangkan. Akhirnya muncullah istilah jika seseorang marah-marah dianggap sedang emosi. Padahal emosi bukanlah tentang amarah. Emosi adalah ekspresi jiwa. Emosi menggambarkan perilaku, respon atau psikologis mengatur perasaan yang timbul karena adanya keinginan atau stimulus yang tidak terduga. Emosi pun muncul sebagai tanggapan atas kejadian tertentu.

EQ merupakan kemampuan/kecerdsan dalam keterampilan bakat, minat dan sikap. EQ mengajarkan kepada kita untuk memahami perasaan orang. Sebuah riset menarik, menyatakan bahwa IQ menunjang kesuksesan tidak lebih dari 20% dan kurang lebih 80% lagi dtunjang oleh kecerdasan emosi, spiritual dan yang lain. Tentu EQ mendapatkan porsi yang lebih besar.

Dimensi EQ terdiri dari, kecakapan pribadi berhubungan dengan kemampuan mengenali diri sendiri (intrapersonal, sadar diri, pengaturan diri dan motivasi diri). Kedua, kecakapan social, bagaimana kita dapat berhubungan baik orang lain dan masyarakat dan terakhir keterampilan sosial/kemampuan berinteraksi dengan orang lain.

Kecerdasan ini bisa dilatih dalam organisasi atau dalam forum-forum diskusi dimana kita dapat dengan leluasa berinteraksi dengan orang-orang, berusaha memahami karakter masing-masing orang, berusaha dapat diterima oleh setiap orang, berusaha tetap bekerja sama dengan orang yang kita tidak sukai, atau tidak cocok, melatih emosi kita, dll.

Pembinaan Disiplin

Pembinaan disiplin merupakan salah satu pandangan dari keberhasilan seseorang dalam mengolah lembaga atau sumber daya dalam dunia pendidikan. Sikap disiplin sangat diperlukan sebagai sarana pendukung agar terciptanya efisiensi pendidikan. Kita harus menanamkan disiplin tidak hanya tentang waktu, tetapi juga sikap dan perilaku sehari-hari kita. Disiplin tidak hanya berlaku untuk siswa. Tetapi juga security, karyawan, staf, guru, hingga kepala sekolah. Hal ini penting untuk efektifitas dan pencitraan suatu lembaga pendidikan.

Pendisiplinan sekolah adalah usaha dan upaya untuk mendisiplinkan seluruh warga sekolah agar tidak berperilaku menyimpang dari aturan dan kesepakatan yang ada. Pendisiplinan sekolah itu sangat penting karena dapat membentuk kepribadian peserta didik yang tertib. Aturan sekolah merupakan standa/ketetapan yang harus dipatuhi oleh seluruh warga sekolah, mulai dari jam masuk, seragam, sikap, etika, nilai-nilai (kejujuran, bekerja keras, ikhlas), dll. Pendisiplinan sekolah dalam perspektif siswa, merupakan sebuah upaya pembiasaan kepada siswa agar senantiasa berperilaku baik, tertdib dan disiplin.

Ada dua macam disiplin, yakni disiplin preventif dan korektif. Disiplin preventif adalah upaya menggerakkan siswa untuk mengikuti dan mematuhi peraturan yang telah ditetapkan. Penerapan disiplin semacam ini dilakukan untuk mencegah terjadinya perilaku peserta didik yang menyimpang. Sedangkan disiplin korektif yaitu disiplin yang diterapkan dengan memberikan kesempatan kedua setelah ia melanggar aturan/berperilaku menyimpang.

Perilaku menyimpang dapat disebabkan dari ketidaktegasan guru dalam mendidik siswa. Acuh tak acuh serta tidak peduli dengan kelakuan siswanya. Hal ini membuat siswa merasa tidak diperhatikan dan tetap melanjutkan perilaku menyimpangnya. Penyebab yang lain adalah karena kondisi sekolah yang kurang menyenangkan sehingga siswa ingin segera cepat pulang dan stress. Penyebab itu juga bisa datang dari dalam diri siswa itu sendiri. Namun terkadang kurikulum yang terlalu kaku membuat siswa bega berada di sekolah dan menjalankan aktifitas sesuai dengan seluruh aturan yang ada.

Pendekatan kepada siswa adalah upaya pertama yang bisa dilakukan untuk penanggulangan masalah ini. selanjutnya kerahkan guru bimbingan konseling untuk membantunya agar menjadi lebih baik dan disiplin. Tanamkan tentang pentingnya disiplin kepada siswa, diantaranya: disiplin merupakan sebuah upaya untuk menanamkan kerja sama, karena dalam bekerja sama dibutuhkan kedisiplinan dengan partner kerja kita. Disiplin merupakan kebutuhan dalam berorganisasi, bagaimanapun kita akan berorganisasi baik di tempat kerja maupun keluarga pada cakupan yang lebih kecil. Disiplin mengajarkan kita tentang menghormati orang lain.

Strategi umum yang digunakan untuk menstimulus kedisiplinan dalam diri adalah menumbuhkan konsep diri siswa, keterampilan berkomunikasi, konsekuensi logis (konsekuensi yang terukur) jika ia tidak disiplin, klarifikasi nilai, penjelasan tentang kesalahan yang dilakukan dan hal mana yang seharusnya dilakukan, analisis transaksional (modifikasi perilaku dengan membangun kesepakatannya), buat kesepakatan dengan siswa, bargain seperti apa yang diinginkan siswa agar ia mau disiplin, terapi realitas (mengambil contoh dan pelajaran dari kejadian yang sudah-sudah), disiplin yang terintegrasi (diterapkan secara terpadu), dan memodifikasi perilaku.

Tantangan pendisiplinan adlah pemberontakan. Baik dari individu maupun kelompok. Pendidik dan pihak sekolah harus sudah memiliki solusi jika pemberontakan itu terjadi. Ada peraturan yang bersifat permisif, yaitu orang dibiarkan bertindak sesuai dengan keinginannya namun harus tetap berada di koridor yang telah ditetapkan, ada juga peraturan yang bersifat demokratis dimana siswa diikutsertakan dalam pembuatan peraturan sekolah, teknik ini menekankan kepada aspek educatif dan aspek hukuman. Hal ini dapat berimbas positif bagi pihak sekolah karena peraturan merupakan kesepakatan, sudah selayaknya siswa mematuhi dan menjunjung tinggi kesepakatan bersama. Ini akan menjadi senjata ampuh ketika ada siswa yang melanggar peraturan.

Quantum Learning

Dalam ilmu fisika, istilah quantum masuk kedalam teori percepatan. Dalam fisika, quantum berarti sebuah loncatan partikel-partikel electron berkecepatan tinggi yang mampu menembus kepadatan materi. Namun arti sebenarnya dari quantum itu adalah system kerja yang diberlakukan di sebuah perusahaan agar pegawai merasa nyaman dan menyenangkan dan agar pekerjaan dilakukan dengan baik.

Quantum learning adalah percepatan belajar yang diciptakan dalam kelas tertentu untuk mengefisiensikan aktivitas pembelajaran dikelas. Atau dengan kata lain, Quantum Learning merupakan suatu kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman daya ingat, serta belajar sebagai proses yang menyenangkan dan bermakna.

Kerangka berpikir quantum learning terdiri dari beberapa hal yang dianggap penting dalam pembelajaran. Pertama, sikap positif. Sebelum memulai belajar hendaknya siswa harus memiliki sikap positif. Sikap positi lahir dari perasaan dan pikiran yang positif. Sebuah pikiran bahwa kita akan mampu memahami mata pelajaran tersebut. Sebuah keyakinan bahwa kekuatan pikiran itu tidak terbatas. Otak kita sama dengan otak Einstein, otak yang luar biasa ini memiliki dalil sederhana: gunakan atau abaikan. Pemikiran positif semacam ini yang mampu memotivasi kita dan pada akhirnya memunculkan sikap positif. Hal ini penting sebelum memulai pembelajaran. Kedua, cara belajar. Cara belajar merupakan gabungan dari cara mengatur informasi, cara menyerap informasi dan cara mengolah informasi. Cara belajar orang berbeda-beda. Hendaknya siswa diberikan keleluasaan dalam mengeksplor cara belajarnya masing-masing ketika mereka sudah menemukan caranya, mereka akan merasa nyaman dan pembelajran menjadi efektif. Ketiga, motivasi. Motivasi merupakan hal yang penting dan mampu menggerakkan serta menyemangati kita untuk melakukan sesuatu, begitu pula halnya dalam belajar. Bagaimana guru mampu membangun motivasi siswa sebelum belajar. Keempat lingkungan belajar. Lingkungan tempat belajar haruslah mendukung baik dari kerapihan, keindahan dan kenyamanan. Lingkungan belajar harus mendukung. Guru yang ramah, suhu kelas yang baik, pencahayaan yang cukup, warna dinding kelas, jika perlu tempelkan tulisan-tulisan yang mampu memotivasi siswa di sekitar dinding kelas. Selanjutnya baca cepat, semakin cepat dalam membaca, semakin banyak informasi yang mampu diserap dalam waktu yang singkat oleh siswa, oleh karena itu siswa diajarkan bagaimana cara membaca cepat. Teknik hapalan dan menulis. Terkadang untuk menghapal sangat sulit bagi beberapa siswa, begitu pula dengan menulis. Bagaimana cara menghapal yang baik dan terekam dalam long term memory, bagaimana menulis dengan efisien tanpa mengurangi substansi yang terkandung di dalamnya.
Dalam quantum learning, siswa ditanamkan sebuah pemikiran bahwa belajar adalah kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikkan. Sehingga di dalamnya tidak ada perasaan resah, takut, bosan, menyebalkan, panik, bingung. Jika hal ini berhasil ditanamkan, maka antusias siswa akan sangat tinggi dalam belajar. Tanpa tekanan, tanpa paksaan.
Gardner membagi kecerdasan manusia sebagai berikut:
1. Kecerdasan linguistic (bahasa)
2. Kecerdasan logika (matematik, fisika, angka)
3. Kecerdasan visual (penglihatan)
4. Kecerdasan kinestetik (gerakan fisik, olah raga)
5. Kecerdasan musical (music, mencipta lagu, aransemen, kepekaan nada)
6. Kecerdasan interpersonal (menjalin hubungan dengan orang-orang)
7. Kecerdasan natural (alami)
Memberikan apreasiasi setelah belajar, memberikan penghargaan atas keberhasilan kita, lalu mencapai kesempurnaan untuk membentuk kepercayaan diri dan kemudian memberikan motivasi untuk langkah selanjutnya.
Musik sangat membantu dalam menciptakan lingkungan belajar yang baik. Music dapat membuat denyut nadi dan tekanan darah menurun, memperlambat gelombang otak, dan merilekskan otot-otot.

Strategi Belajar

Keselurauhan kehidupan manusia adalah belajar. Dari kecil hingga besar kita terus belajar. Belajar tidak ada akhirnya. Dengan belajar, seluruh aspek hidup kita dapat menjadi lebih baik dan diharapkan adanya perbaikan kualitas hidup. Dengan belajar kita pun dapat bermanfaat untuk orang lain dengan ilmu yang kita proleh. Belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Bahkan ketika kita naik bus umum, entah bagaimana kita tahu kaki kiri lah yang harus turun terlebih dahulu, itupun sebuah pembelajaran. Agama pun mewajibkan penganutnya untuk terus belajar, dari lahir, hingga ke liang lahat.

Belajar merupakan sebuah proses yang dilakukan secara sengaja dan terencana dengan tujuan penambahan pengetahuan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, di dalamnya terdapat interaksi antara pengajar, peserta didik dan lingkungan sekitar. Pembelajaran yang baik menyesuaikan dengan kondisi siswa, lingkungan, dan fasilitas yang ada, biasa disebut dengan pembelajaran kontekstual. Pengajar haruslah seorang guru yang professional baik secara akademik, maupun secara sikap dan kemampuan komunikasinya.

Dalam perkembangannya, pembelajaran mengalami perubahan dari teacher centered menuju student centered. Dari sebuah sistem pembelajaran yang seutuhnya dikendalikan oleh guru, dan siswa berperan sebagai pendengar yang baik menuju sebuah pemusatan kepada siswa, yang focus pada keikutsertaan siswa secara aktif dalam proses pembelajara. Dari teori belajar behavioristik menuju teori belajar konstruksivistik. Dalam behavioristik terdapat aktivitas penambahan pengetahuan yang bersifat objektif dan pasti, pengetahuannya tersetruktur dengan rapih dan seragam. Siswa hanya menerima apa-apa yang diberikan oleh guru. Sedangkan dalam kontruktivistik hal yang dilakukan adalah pemaknaan terhadap pengetahuan, pengetahuan nonobjektif dan senantiasa berubah, pengetahuan terstruktur secara rumit dan beragam. Siswa sendirilah yang mengkonstruksi pemahamannya. Layaknya membangun rumah, siswa hanya diberikan air, pasir, semen, batu bata, rangka, genting, dll, namun ia sendirilah yang mengaduk semen, menempelkan batu bata, hingga menjadi tembok dan memasang genting sehingga menjadi rumah.

Proses pembelajaran sebaiknya disusun secara sistemik dan sistematis oleh guru. Interaksi yang optimal antara guru dan siswa merupakan suatu keharusan agar proses pembelajaran berjalan dengan efektif. Ketersediaan sumber belajar yang memadai, serta suasana yang menyenangkan, menantang, mendorong semangat adalah variable yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Dewasa ini kita kenal pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema tertentu, lalu tema tersebut dapat ditinjau dari beberapa mata pelajaran. Pada pembelajaran tematik disediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum serta menawarkan dinamika dalam pembelajaran dan membantu siswa membangun hubungan antara konsep dan ide pemahaman. Sebagai contoh, ketika kita berbicara tentang air, bisa dibahas dari segi geografi, fisika, biologi, kimia, penjaskes, bahkan agama. Jenis pembelajaran lain yang sering digunakan adalah pembelajaran koperatif yaitu pembelajaran yang menitik beratkan pada kerjasama tim. Siswa dilatih untuk bekerja dan menjadi bagian dalam tim, bekerja sama, berinteraksi, serta melatih jiwa kepemimpinan. Bentuk pembelajaran dapat berupa diskusi kelompok, atau observasi kelompok atau proyek kelompok.

Jenis-jenis pembelajaran student centered lainnya meliputi belajar berbasis masalah (problem based learning), dimana siswa dihadapkan dengan berbagai maslah, lalu dari situ siswa diarahkan untuk menganalisi masalah, mengaitkannya dengan teori yang ada, menentukan faktor penyebab masalah dan bagaimana penyelesaiannya. Pembelajaran semacam ini dianggap efektif karena langsung pada poin intinya: problem solving, karena pada dasarnya belajar berarti melatih kita untuk dapat menyelesaikan berbagai masalah yang ada.

Manajemen Kelas

Manajemen kelas adalah berbagai jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Manajemen kelas meliputi pengaturan siswa dan pengaturan fasilitas. Manajemen kelas dalam menciptakan kondisi optimal ini dapat berupa penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, pemberian award, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif, penataan ruang kelas, penataan tempat duduk,dll.

Secara umum terdapat 2 masalah pengaturan siswa pada manajemen kelas, yaitu Masalah Individu dan Masalah Kelompok.

Masalah individu meliputi: Attention getting behaviors (perilaku mencari perhatian), Power seeking behaviors (perilaku menunjukkan kekuatan), Revenge seeking behaviors (perilaku menunjukkan balas dendam), dan Helplessness (peragaan ketidakmampuan). Sedangkan masalah yang ada di kelompok yaitu: Kelas kurang kohesif, karena alasan jenis kelamin, suku, gender, tingkatan sosial ekonomi, dan sebagainya. Kedua, Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati seperti keterlambatan. ketiga, Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya seperti menyoraki teman yang salah menjawab pertanyaan dari guru. Keempat, Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap seperti gossip, hang out, nonton, main game, futsal, dll. Kelima, Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru, karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair, terlalu berat, dll. Keenam, Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru.

Ada 8 pendekatan manajemen kelas dalam upaya menangani masalah-masalah yang disebutkan di atas. Pertama, pendekatan otoriter dimana guru menggunakan otoritasinya secara utuh untuk megatur siswa yang sekiranya mengganggu jalannya proses belajar mengajar. Kedua, pendekatan intimidasi : mengawasi siswa dan menertibkan siswa dengan cara intimidasi. Contoh, guru mengatakan : “sekali lagi anda mengganggu, keluar!”. Ketiga, pendekatan permisif : memberikan kebebasan kepada siswa, apa yang ingin dilakukan siswa, guru hanya memantau apa yang dilakukan siswa. Dan akhirnya member evaluasi. Keempat, pendekatan resep masakan : mengikuti dengan tertib dan tepat hal-hal yang sudah ditentukan, apa yang boleh dan apa yang tidak. Kelima, Pendekatan pengajaran : guru menysusun perencanaan pengajaran secara apik sehingga tidak ada celah sedikitpun bagi siswa untuk berprilaku menyimpang. Keenam, Pendekatan modifikasi perilaku : mengusahakan adanya perubahan prilaku siswa dari yang buruk menjadi baik. Ketujuh, Pendekatan iklim sosio-emosional : menjalin hubungan yang positif antara guru-siswa. Akrab, namun masih menjaga koridor yang ada sebagai guru (orang tua) dan siswa. Kedelapan, Pendekatan sistem proses kelompok/dinamika kelompok : membuat kelompok-kelompok belajar sehingga perilaku menyimpang bisa lebih diredam dengan tugas diskusi kelompok yang dilaksanakan dengan efektif dan produktif.

Setting tempat duduk juga dapat mempengaruhi efektifitas belajar siswa, oleh karena itu telah tersedia beberapa setting tempat duduk yang mampu menunjang efektivitas belajar siswa, diantaranya U-shape, O-shape, V-shape, Theater dan bentuk acak.

Moving Class
Moving Class merupakan bentuk dari manajemen kelas dimana siswa mendatangi guru/pendamping belajar. Lingkungan dan suasana kelas dibuat dan didekorasi sedimikian rupa sehingga nyaman, dinamis dan sesuai dengan mata pelajaran tertentu. Keunggulan sistem ini adalah para siswa mempunyai semacam waktu relaksasi/refreshing sejenak sebelum memulai pelajaran selanjutnya dengan bergerak, berjalan bersama-sama menuju kelas lain sehingga pikiran kembali segar. Kekurangannya adalah, tidak ada rasa kepemilikan kelas oleh siswa, sehingga kelas cenderung tidak terurus. Dan biasanya siswa akan mendapati kelas selalu berantakan, kotor, sampah berserakan, dll karena habis dipakai oleh rombongan siswa sebelumnya.

Seleksi, Penempatan dan Orientasi

Seleksi
Seleksi adalah serangkaian langkah yang digunakan untuk memutuskan apakah pndaftar dapat diterima atau tidak berdasarkan kompetensi yang dimiliki. Seleksi dilakukan untuk mengetahui apakah kriteria peserta didik sesuai dengan kebutuhan lembaga pendidikan. Ada atau tidaknya kesesuaian antara kebutuhan pelamar dengan kebutuhan lembaga pendidikan menjadi dasar dari pelaksanaan seleksi.

Tantangan dalam proses seleksi diantaranya tantangan supply yang terkait dengan ketersediaan calon peserta didik yang sesuai dengan kriteria peserta yang diinginkan oleh lembaga pendidikan. Hal baiknya adalah semakin banyak pesera didik yang mendaftar, semakin banyak peluang untuk memilih yang terbaik untuk dapat diterima. Hal buruknyaadalah pekerjaan administrative, SDM, waktu dan biaya juga akan semakin bertambah banyak. Sebaliknya, semakin sedikit pendaftar, semakin sedikit pilihan, namun pekerjaan administrative, SDM, waktu dan biaya yang dibutuhkan pun semakin sedikit.

Selanjutnya tantangan etis yang terdiri dari 5 hal: kesetaraan gender, family system (KKN), sogokan (surat sakti), transparansi, dan formalitas. Kesetaraan jender, dimana seleksi didasari pada jenis kelamin pria/wanita seperti pada sekolah asrama wanita, sekolah sekertaris, sekolah tentara,dll. Kedua, family sistem atau sering dikenal dengan istilah KKN, dimana penerimaan calon peserta didik dilakukan melalui jalur kekerabatan/hubungan tali persaudaraan, meskipun peserta didik tidak kompeten untuk dapat diterima di lembaga pendidikan tersebut.

Ketiga, sogokan. Seperti yang kita ketahui, kecurangan semacam ini sering terjadi demi alasan gengsi dari peserta didik maupun alas an finansial bagi oknum pihak sekolah yang tidak bertanggung jawab.

Keempat, transparansi. Sebuah transparansi atau kejelasan terbuka tanpa ada hal yang ditutup-tutupi oleh pihak sekolah kepada pendaftar. Acap kali terjadi konflik ketika tidak ada transparansi dari pihak sekolah kepada pihak pendaftar. Kelima, formalitas (pembuktian), maksudnya pihak luar mengetahui bahwa seleksi telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang ada.

Terakhir adalah tantangan organisasional. Hal ini didasarkan pada lembaga pendidikan itu sendiri, seputar keterbatasan sarana prasarana sekolah, pembiayaan proses seleksi, alokasi waktu dan SDM.

Proses seleksi melewati langkah-langkah sistematis yang tersedia yaitu seleksi administratif, seleksi dengan prosedur tes, wawancara, pemeriksaan referensi, evaluasi medis dan keputusan penerimaan.

Langkah pertama yaitu seleksi administratif. Calon peserta didik diharuskan mengisi formulir yang telah disediakan oleh pihak sekolah. Dokumen-dokumen dan kelengkapan lain juga harus dipenuhi secara lengkap oleh calon peserta didik. Langkah kedua adalah seleksi dengan tes. Alat tes harus memenuhi standar : valid dan reliable. Standar valid dan reliable artinya alat tes itu harus dapat digunakan dengan mudah oleh pelamar dan materi tes yang digunakan berkaitan dengan jenis lembaga pendidikan itu sendiri. Materi tes yang biasa diujikan diantaranya; psikotes, pengetahuan (potensi akademik), performance, harus memperhatikan aspek kelayakan (feasibility dan fleksibilitas). Langkah selanjutnya yaitu wawancara, sebuah percakapan antara pihak sekolah dengan satu per satu calon peserta didik. Ada 5 jenis pertanyaan wawancara: Pertanyaan tidak terstruktur, artinya pertanyaan yang diberikan tidak terurut atau diberikan secara acak, berkembang sesuai dengan pembicaraan yang terjadi. Pertanyaan terstruktur, pertanyaan diberikan secara berurutan dan telah dipersiapkan oleh pewawancara. Pertanyaan campuran, pertanyaan yang diberikan bisa acak namun ada juga yang berurutan. Problem solving, pertanyaan berupa masalah dan calon peserta didik diminta untuk memecahkannya. Stress interview, pertanyaan yang membuat calon peserta didik kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang diberikan.

Calon peserta didik diberikan batasan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pewawancara atau disebut terminasi. Ada sebuah pemberian kode yang menyatakan waktu untuk menjawab sudah habis. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi over time dalam wawancara sehingga wawancara berjalan dengan baik dan efisien.

Ada 4 kesalahan dalam wawancara yaitu hallo effect, leading question, personal biases dan dominasi pewawancara.

Langkah keempat seleksi adalah pemeriksaan referensi, yaitu pemeriksaan berkas atau dokumen calon peserta didik. Pertama, Personal references. Referensi ini berisi tentang kemampuan akademik, kemampuan finansial, dan kemampuan menjalani proses pendidikan dari personal calon peserta didik. Kedua, Performance references adalah referensi tentang prestasi calon peserta didik yang dibuktikan dengan fotocopy dokumen.

Langkah kelima yaitu evaluasi medis. Langkah ini merupakan seleksi yang di lihat dari segi kesehatan calon peserta didik. Pemeriksaan kesehatan ini dapat dilakukan secara mandiri oleh pihak sekolah atau melalui lembaga kesehatan. Dengan menggunakan lembaga kesehatan, tentunya sekolah harus mengeluarkan biaya. Maka jika sudah layak, sebaiknya evaluasi medis dilakukan secara mandiri terutama untuk efisiensi biaya.

Pengumuman keputusan diterima atau tidaknya pendaftar/calon peserta didik bisa dilakukan melalui media seperti papan pengumuman, surat, internet, koran, atau telepon.

Penempatan
Penempatan adalah proses membagi-bagi (menempatkan) siswa ke dalam kelas-kelas dengan range tertentu. Penempatan bisa didasarkan pada hasil seleksi, homogenitas, heterogenitas, jadwal belajar, gender, kemampuan akademik, alphabet, no urut pendaftaran, dan Lain-lain.

Orientasi
Orientasi berarti memperkenalkan siswa baru terkait hak dan kewajibannya terhadap lembaga pendidikan dan siswa lain. Proses orientasi bertujuan untuk memperkenalkan siswa baru kepada seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah hingga karyawan atau bahkan warga kantin. Memperkenalkan siswa baru dengan fasilitas (sarana-prasarana), gedung sekolah dan memperkenalkan tentang mekanisme/prosedur dalam pembelajaran, pembimbingan, dan ujian. Bentuk dalam orientasi ada dua: formal dan informal. Bentuk orientasi Formal itu berupa acara khusus seperti seminar, sedangkan informal (buddy system), berupa school tour dimana siswa baru diajak berkeliling sekolah dan diperkenalkan dengan lingkungan sekolah, fasilitas sekolah, ruang guru, TU, laboratorium, dll.

Rekruitmen Peserta Didik

Pendidikan sangatlah penting dan telah menjadi kebutuhan semua orang yang hidup di zaman sekarang ini. Lucunya, ketika dipertanyakan kembali kepada peserta didik tentang tujuan bersekolah, kerap kali peserta didik kesulitan menjawabnya atau bahkan mungkin selama ini mereka tidak tahu alasan mengapa mereka bersekolah. Untuk mengetahui jawabannya, kita harus faham fungsi-fungsi pendidikan yang dijalankan di sekolah, kampus, atau lembaga pendidikan lainnya.

• Perspektif Teknis/Ekonomi
Hal in berarti sebuah indikasi keberhasilan pendidikan ditunjukkan dari perubahan tingkat kesejahteraan. Kita bersekolah adalah dengan sebuah tujuan, yakni agar mendapat pekerjaan dan penghasilan yang baik. Keterampilan itu disesuaikan dengan spesifikasi kita ketika kuliah, dan selanjutnya adalah bagaimana kita mampu mengimplementasikannya serta mengembangkannya dalam kehidupan nyata. Jika seseorang telah menyelesaikan pendidikannya dan dalam jangka waktu tertentu ia belum juga mendapatkan perbaikan dari segi ekonomi/financial, bisa dikatakan pendidikan yang ditempuhnya selama in adalah gagal dan sia-sia.

Perspektif Sosial/Manusiawi
Dalam perspektif ini, pendidikan mengajarkan kita bagaimana berperan sebagai manusia, makhluk social. Artinya pendidikan mengajarkan bagaimana kita berkomunikasi dengan yang lain, bagaimana bersikap dan berprilaku, menanamkan nilai-nilai dan norma sopan santun dan moralitas, serta mengajarkan kita tentang sisi-sisi kemanusiaan. Sejauh kita menempuh pendidikan dan tidak ada perubahan sikap, perilaku, moralitas, jiwa social/kepedulian terhadap sesama, dan tidak dapat bekerja sama dengan angoota masyarakat yang lain, dapat dikatakan pendidikan itu telah gagal. Karena manusia yang berpendidikan sedah seharusnya bertatakrama yang baik, sopan, santun, dll.

Perspektif Politik
Pendidikan mengajarkan kita tentang kesadaran politik, bersiasat, hak dan kewajiban, wewenang. Bentuk nyatanya adalah partisipasi dalam berpolitik sebagai warga Negara dengan melaksanakan pemilu . kita kethaui Negara ini Negara hukum dan demokrasi. Jadi indicator ketika pendidikan dianggap sukses slah satunya adalah adalah dengan bentuk partisipasi politik (setidaknya memiliki kesadaran politik) baik pada tataran RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, dan Indonesia. Karena jika berbicara politik, berarti berbicara kepentingan dan wewenang, berbicara tentang kepentingan dan wewenang, berarti berbicara tentang Negara, berbicara tentang Negara berarti berbicara tentang nasionalisme.

Perspektif Kultur
Perabadan merupakan tingkat kemajuan budaya suatu bangsa dalam jangka waktu tertentu. Peradaban lahir dari sebuah kultur/budaya yang ada di masyarakat. Diharapkan pendidikan dapat mencetak manusia-manusia yang dapat menanamkan nilai-nilai budi pekerti luhur terhadap budaya hidup di mana ia memijakkan kaki. Menjaga, melestarikan budaya leluhur dan nilai-nilai baik, mengembangkannya agar lebih baik lagi, serta merubah budaya yang sekiranya tidak baik untuk dipertahankan. Yang pada akhirnya pendidikan, melalui outputnya, mampu membentuk sebuah peradaban.


Rekrutmen Peserta Didik

Lembaga pendidikan manapun memerlukan peserta didik. Oleh karena itu dibutuhkan suatu cara untuk membuat mereka datang dan mendaftar. Lembaga pendidikan harus menyosialisasikan/mempublikasikan keberadaannya kepada masyarakat dan membuat alat publikasi menjadi semenarik mungkin agar menarik minat masyarakat yang melihatnya. Hal ini disebut rekruitmen. Pelaksanaan yang dilakukan lembaga pendidikan tersebut bisa dilakukan sendiri untuk sekolah, secara kolektif atau melalui lembaga rekrutmen(recruiters).

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam rekriutmen peserta didik adalah menentukan tujuan lembaga pendidikan. Tujuan akan menjadi landasan utama rekruitmen. Dari tujuan lembaga pendidikan, kita bisa menentukan karakteristik/kriteria peserta didik yang diinginkan dan tempat yang tepat untuk publikasi. Kedua, menentukan kriteria peserta didik yang akan direkruit. Penentuan ini berdasarkan pada tujuan organisasi. Ketiga, membuat estimasi (perkiraan) jumlah calon peserta didik secara keseluruhan. Tidak bisa kita menerima peserta didik sebanyak-banyaknya karena akan terbatasi oleh tempat, tenaga pendidik dan kependidikan yang tersedia. Jadi harus ada perkiraan batasan jumlah rekruitmen peserta didik. Keempat, menentukan jumlah peserta didik yang ada saat ini (jika sekolah bukan sekolah baru), dan yang terakhir, penentuan jumlah jumlah peserta didik yang akan diterima, tentunya sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan di poin kedua.


Sumber-sumber dalam rekrutmen
Walk-ins : calon peserta didik/orang tua datang ke lembaga pendidikan yang ingin dimasuki, mendaftar, dan pihak sekolah memberikan formulir pendaftaran untuk keperluan pendataan sekolah. Pendaftaran internet juga merupakan tipe dari walk-ins. Sumber yang kedua yaitu Advertising, sebuah teknik publikasi melalui media cetak maupun elektronik. Bisa melalui poster, selebaran, iklan di Koran, majalah ataupun radio, internet dan televise. Ada dua jenis advertising: want ad (informasi lengkap, termasuk biaya pendaftaran) dan blind ad (informasi terbatas). Sumber rekrutmen bisa juga melalui open house yang dihadiri oleh calon peserta didik.

Setelah melakukan rekruitmen, diadakan evaluasi. Evaluasi meliputi jumlah pendaftar, jumlah yang disusulkan untuk diterima, jumlah yang diterima, efektifitas saluran/media rekrutmen, pelaksana rekrutmen dan biaya.

Aplication Form (secara umum):
1. Data pribadi (nama, tempat tanggal lahir, gender, alamat, no telp, gol. darah)
2. Data keluarga (ibu, ayah, saudara)
3. Prestasi (akademik dan nonakademik)
4. Riwayat kesehatan
5. Status sosial ekonomi ( penghasilan orangtua, kepemilikan tempat tinggal)
6. dll.

Beberapa kendala rekruitmen diantaranya: Kebijakan organisasional, seputar kenaikan kelas, kelulusan, dan mutasi, serta biaya pendidikan yang mahal, dan juga penerimaan siswa lokal atau luar kota. Semua itu akan mempengaruhi daya tarik sekolah dan minat peserta didik. Adanya supply (persediaan) and demand (permintaan) calon peserta didik yang ditujukan untuk lembaga pendidikan yang akan diterima. Kendala eksternal dapat berupa kondisi ekonomi dan sosial masyarakat, serta persaingan dengan lembaga pendidikan yang lain.

18 Oktober 2009

Paradigma Baru Manajemen Pendidikan

Paradigma atau pandangan umum tentang pendidikan di masa lalu, kini dan yang akan datang merupakan sesuatu yang sangat dinamis. Oleh karena itu kita harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang terjadi agar terjadi relevansi dalam berpikir, merencanakan dan mengelola pendidikan, khususnya di Indonesia. Sehingga pada akhirnya, pendidikan dapat melahirkan orang-orang yang berkualitas dan berdaya saing.


Sebuah paradigma erat dikaitkan dengan trend atau hal yang populer menyebar dan menjadi bagian dari hidup masyarakat kebanyakan. Trend masa lalu yang beranggapan bahwa pendidikan hanya seputar IQ, kecerdasan akademis, logika, dimana yang mendapat peringkat satu di kelas adalah anak yang cerdas dan akan menuai kesuksesan, sementara yang berada di peringkat bawah adalah anak bodoh dan calon gagal. Sehingga pendidikan dikelola sedemikian rupa agar peserta didik mampu mencapai nilai tinggi di kelas. Pendidikan pun seolah hanya persaingan di kelas saja atau mungkin hanya sampai level sekolah. Terkait materi pelajaran pun, peserta didik seperti dituntut untuk menguasai seluruh mata pelajaran dengan baik. Sebuah paradigma yang masih sangat kaku.


Sementara paradigma baru tentang pendidikan beranggapan bahwa kecerdasan sangat banyak jenisnya. Tidak hanya IQ, namun ada kecerdasan numerik, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan linguinis, kecerdasan emosional dan spiritual, dll. Sehingga tidak lagi ada anggapan bahwa peserta didik yang tidak menonjol dalam akademis adalah anak bodoh dan calon gagal, tapi bagaimana para pendidik berusaha menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki anak tersebut. Ada sebuah keyakinan bahwa: "anak ini pasti memiliki sebuah spesialisasi kecerdasan tertentu". Mulailah bermunculan kegiatan ekstrakurikuler sebagai salah satu bagian dari proses pengelolaan pendidikan dalam upaya mengembangkan potensi, minat dan bakat peserta didik yang berbeda-beda. Pengelolaan pendidikan pun berorientasikan hasil, yakni keahlian atau spesialisasi. Persaingan pun sudah mulai dipahami sebagai persaingan yang global dimana peserta didik menganggap bahwa peserta didik di luar sekolah dan daerahnya juga merupakan kompetitor/rival mereka, bahkan pada tingkat yang lebih tinggi lagi, persaingan internasional. Dalam pandangan ini pendidikan tidak hanya mengajarkan persaingan, tetapi juga sportifitas dan kejujuran.


Transparansi dalam hal pengelolaan pendidikan seakan sudah menjadi keharusan. Pengelolaan yang sebelumnya tertutup, kini akan menuai banyak kritikan dan tuntutan dari masyarakat yang sudah semakin cerdas dan kritis. Dibutuhkan pengelolaan yang terbuka dimana setiap orang yang terlibat di dalamnya dapat mengetahui bagaimana pendidikan itu sebenarnya.


Sejanjutnya adalah keahlian atau spesialisasi. Pendidikan sudah mulai memikirkan bagaimana menghasilkan tenaga-tenaga ahli untuk menyelesaikan tantangan masa depan yang amat kompleks. Karena spesialisasi merupakan harga yang sangat mahal melihat tidak semua orang memiliki itu.


Paradigma baru manajemen pendidikan selalu menilai segala sesuatu secara profesional. profesionalitas seseorang tidak kalah pentingnya dengan spesialisasi. Karena dari pekerjaan yang dilakukan dengan profesional, orang-orang akan paham bahwa kita adalah orang yang tepat, itu pun memiliki value yang sangat besar. Bagaimana seseorang memiliki tanggung jawab dan amanah yang besar untuk melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya, ikhlas, sabar dan senantiasa melakukan peningkatan kualitas.


Pendidikan tidaklah kaku, melainkan dinamis. Di mana dalam melaksanakannya sangat banyak aspek yang mempengaruhinya, perkembangannya pun tidak tetap. Tidak semua daerah memiliki input, lingkungan, dan fasilitas yang sama sehingga memerlukan inovasi-inovasi dan penyesuaian dalam mengelolanya. Sebagai manajer pendidikan haruslah berani berinvestasi dalam pendidikan baik dalam hal materi maupun pemikiran. Inovasi sangat dibutuhkan walaupun terkadang harus menyelisihi aturan yang sudah ada. Dalam mengelola pendidikan haruslah berani berkreasi, melakukan percobaan dan penelitian perihal pola pendidikan yang tepat untuk diterapkan, dan terkadang dalam prosesnya akan membuat kesalahan-kesalahan. Pendidikan harus senantiasa berkembang mengikuti perkembangan zaman, dengan penuh optimisme dan kepercayaan diri yang tinggi menyambut segala resiko yang akan dihadapi.


Di tengah-tengah zaman dimana batasan-batasan negara tak lebih dari hanya sekedar pembatas secara geografis, lingkungan menjadi sangat global. Di samping itu terkadang kita dihadapkan dengan sebuah pola kehidupan yang masih konvensional dan kental dengan originalitas budaya yang menyebabkannya tidak tersentuh oleh globalisasi. Oleh karenanya, kita dituntut untuk dapat beradaptasi di segala situasi dan kondisi agar kita mampu bertahan hidup dan diterima oleh banyak orang.


Sekurang-kurangnya terdapat tiga buah tuntutan SDM masa depan: (1) Pengetahuan/wawasan global, (2) Keterampilan global, (3) Sikap/perilaku. Pengetahuan/wawasan global menuntut kita untuk berorientasi pada solusi, inovasi dan kreatifitas. Keterampilan global menuntut kita untuk dapat berkomunikasi dengan baik di literatur budaya yang berbeda, mampu menguasai teknologi, dan mampu mengendalikan emosi dengan baik. Tuntutan sikap/perilaku diantaranya dinamis, fleksibel, inisiatif, proaktif, inovatif dan mandiri.

Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik

Manajemen Peserta Didik merupakan gabungan dari dua makna. Makna yang pertama adalah manajemen yang berarti segenap proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian dan pengawasan segala upaya pemberdayaan sumberdaya yang ada untuk mencapaian tujuan secara efektif dan efisien. Makna yang kedua adalah peserta didik, yang berarti anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri dan potensi melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur (formal, nonformal, informal), jenjang (dasar, menengah, tinggi) dan jenis pendidikan (umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, khusus) tertentu.

Tiga jalur dalam pendidikan saling melengkapi dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan. Jalur formal dalam pendidikan biasa dikenal sebagai pendidikan sekolah. Jalur formal memiliki jenjang pendidikan yang jelas, diantaranya: pendidikan dasar (SD/MI), menengah (SMP/MTs dan SMA/SMK/SMEA/MA), dan tinggi. Sedangkan jalur pendidikan non formal merupakan jalur pendidikan yang tetap jelas jenjangnya namun sifatnya tidak terlalu mengikat dan formal layaknya pendidikan persekolahan, misalkan bimbingan belajar atau kursus. Jalur informal, pendidikan yang dilakukan di dalam keluarga, merupakan aspek yang dianggap penting dalam pembekalan awal peserta didik dalam menempuh proses pendidikan di dua jalur lainnya.

Sekurang-kurangnya Manajemen Peserta Didik memiliki dua fungsi utama sebagaimana fungsi manajemen pada umumnya. Fungsi pertama adalah fungsi manajerial yang terdiri dari Planning, Organizing, Actuating, dan Controling atau biasa disingkat dengan POAC. Fungsi manajerial ini merupakan fungsi pokok dalam manajemen. Artinya fungsi manajerial (POAC) diterapkan dalam berbagai aspek yang dikerjakan dalam pengelolaan peserta didik. Fungsi ini dikomandoi oleh seorang manajer atau pimpinan baik pada suatu organisasi maupun pada bagian/divisi dari organisasi itu sendiri. Fungsi yang kedua adalah fungsi operasional, diantaranya: rekruitmen, seleksi, penempatan, orientasi, pengembangan, BK, layanan tambahan, pemberhentian, sistem informasi kesiswaan. Dapat dipahami bahwa fungsi operasional merupakan pelaksanaan tiap tahap/variabel dan bagian dalam upaya pencapaian tujuan manajemen.

Fungsi manajerial yang pertama adalah perencanaan. Dalam perencanaan manajemen harus menetapkan hal utama yaitu tujuan dan arah. Setelah menentukan tujuan dan arah: “kemana peserta didik akan dibawa”, barulah membuat keputusan perihal alternatif apa yang akan diambil mengingat sangat banyak cara dan pilihan untuk mencapai tujuan. Beberapa hal yang ditentukan dalam tahap perencanaan diantaranya: strategi, kebijakan, program, prosedur, metode, sistem, anggaran, standar yang dibutuhkan. Bagaimana strategi untuk mencapai tujuan, kebijakan apa yang ditempuh, program seperti apa yang akan dilaksanakan, apa saja tahapan-tahapan yang mesti dilalui, metode seperti apa yang digunakan, berapa perhitungan biayanya, serta menetapkan standard seperti apa yang dianggap sebagai sebuah keberhasilan pencapaian tujuan manajemen.

Setelah perencanaan selesai, dilanjutkan dengan pengorganisasian. Bagaimana seorang manajer dan jajarannya dapat menetapkan sumberdaya apa yang akan digunakan, membentuk sebuah tim kerja yang solid dengan pembagian tugas (job description) yang jelas, serta pengaturan alur kerja yang jelas dan rapih sehingga nanti tidak ada overlapping dalam pelaksanaanya.

Setelah rancangan perencanaan dan pengorganisasian telah rampung, dilakukanlah pengarahan terhadap jajaran dan anggota organisasi tentang apa dan bagaimana masing-masing pekerjaan dilakukan. Dalam fungsi pengarahan ini seorang manajer harus mampu membuat orang mau bekerja dan dapat mengkomunikasikan arahan-arahannya dengan baik kepada jajarannya agar mudah ditangkap dan dicerna. Artinya ia harus memiliki kecakapan dalam hal komunikasi interpersonal. Tak lupa motivasi juga harus diberikan kepada jajarannya serta yang terakhir adalah bagaimana ia mampu menanamkan kedisiplinan dalam bekerja.

Bersamaan dengan dijalankannya pekerjaan setelah perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan dilakukan, diperlukan pengawasan terhadap kinerja organisasi (controlling). Dala, fungsi pengawasan ini, pekerjaan diawasi, apakah sesuai dengan rencana, apakah tujuan tercapai, apakah terjadi penyimpangan, dll. Sehingga kualitas kinerja dapat dihasilkan secara maksimal.

Hal-hal yang sekiranya akan dikelola dengan fungsi POAC ini diantaranya adalah rekrutmen. Bagaimana agar masyarakat tertarik untuk mendaftar di lembaga pendidikan yang kita kelola. Publikasi, iklan, sosialisasi, dll. Selanjutnya seleksi. Dalam seleksi peserta didik, harus ditetapkan siapa sasarannya, bagaimana proses seleksinya, apa standard input-dalam hal ini peserta didik-yang diinginkan, dll. Setelah murid yang diinginkan sudah terseleksi sesuai standard, tidak berhenti di situ, tapi peserta didik ditempatkan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, semisal pembagian kelas berdasar tingkat pemahaman, manajemen kelas, penjurusan, dll. Langkah selanjutnya orientasi. Peserta didik diperkenalkan dengan lingkungan belajarnya. Mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan, teman-teman, fasilitas-fasilitas sekolah, hingga tata tertib. Kita juga harus memikirkan bagaimana pengembangan potensi peserta didik dilakukan, semisal ekstrakurikuler yang merupakan pengembangan minat dan bakat atau OSIS yang melatih kecakapan peserta didik dalam berorganisasi. Konseling sangat diperlukan karena pasti akan ada konflik yang terjadi pada peserta didik baik dengan diri sendiri, teman sebayanya, guru atau bahkan orangtuanya. Fasilitas dan layanan untuk pesera didik juga perlu diperhatikan, seperti beasiswa, tempat ibadah, UKS, kantin, lapangan olah raga, dll. Manajemen juga harus siap dalam menghadapi keadaan ketika peserta didik mengajukan atau diharuskan untuk sign out yang bisa terjadi lantaran drop out, pindah, maupun lulus. Hal yang terakhir adalah sekiranya dalam pengelolaan peserta didik, semua didukung dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada. Semua harus teratur dalam sebuah sistem informasi yang jelas. Sehingga arsip-arsip tentang peserta didik dan pengelolaannya dapat tertata dengan rapih dan aman.

Psikologi Perkembangan

Terdapat perbedaan yang mendasar antara pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan bersifat kuantitatif (fisik/biologis), sedangkan perkembangan bersifat kualitatif (psiko/mental/rohani). Setiap manusia mengalami keduanya. Mereka tumbuh dari mulai bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia. Semua orang relatif sama dalam hal pertumbuhan, namun tidak halnya pada perkembangan. Perkembangan sulit diukur. Tidak ada ukuran pasti tentang perkembangan. Seseorang yang sudah memasuki umur dewasa terkadang masih bermental anak-anak dan seseorang yang baru memasuki umur remaja terkadang sudah sangat dewasa dalam berpikir dan bersikap.

Perihal Pertumbuhan dan Perkembangan ini sangat penting karena pendidik harus mampu menganalisa dan memahami setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, karena itu akan sangat mempengaruhi treatment yang akan di berikan. Hal ini akan berpengaruh pula pada materi, pendekatan, media, metode, dan teknik belajar yang digunakan.

Pertumbuhan dan perkembangan memiliki kebutuhan primer dan sekunder dalam tiap tahapnya. Kebutuhan primer adalah kebutuhan utama yang dibutuhkan seseorang pada tahapan pertumbuhan dan perkembangan tertentu. Sementara kebutuhan sekunder merupakan kebutuhan tambahan atau pendukung dari kebutuhan pokok.

Kebutuhan primer manusia saat bayi lebih kepada alat-alat geraknya/kinestetik. Karena tubuh dan organ-organnya belum sempurna betul. Sehingga pendidikan yang diterapkan dibarengi dengan gerakan-gerakan aktif yang menyenangkan. Semakin dewasa, kebutuhan seorang manusia lebih kepada kebutuhan psikologi dan mental, bukan lagi kinestetik, oleh karena itu pada pola pendidikannya orang-orang yang sudah mulai dewasa lebih dihadapkan dengan tulisan-tulisan ketimbang gambar-gambar, wacana-wacana studi kasus ketimbang ceramah satu arah. Upaya pencarian jati diri sangat keras dilakukan oleh orang yang mulai beranjak ke dewasa awal. Obsesi untuk mengatakan kepada dunia siapa dirinya sangatlah besar.

Terdapat perbedaan yang jelas antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang wajib dipenuhi. Ada resiko yang setimpal jika kewajiban/tuntutan itu tidak dipenuhi. Sehingga dalam upaya pemenuhannya, seseorang akan berusaha dengan amat keras dan seseorang bisa lebih memaknainya jika kebutuhan itu tercukupi. Sedangkan keingingan merupakan sesuatu yang amat sangat diharapkan oleh seseorang, walau seringkali sebenarnya ia tidak butuh hal tersebut.

Aliran-aliran dalam psikoper

Teori Gestaalt mengatakan bahwa perkembangan itu adalah proses diferensiasi, yang penting itu adalah keseluruhan. Keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul bagian-bagian. manusia sudah dilihat secara keseluruhan dari awal. Jadi yang disebut sebagai manusia adalah manusia yang utuh. Manusia yang tidak utuh bukanlah manusia.


Teori Sosiologi menyatakan bahwa perkembangan merupakan proses sosialisasi. Anak manusia mula-mula bersifat asosial (pra-sosial) lalu sedikit demi sedikit di sosialisasikan. Jadi yang disebut manusia adalah manusia yang bersosialisasi dengan manusia lainnya. Dalam hal ini berarti tarzan bukanlah manusia, karena ia tidak bersosialisasi dengan manusia lain.

Perkembangan Intelektual Remaja

Deduktif Hipotesis

  • Mengawali pemikiran bersifat teoritis
  • Menganalisis masalah
  • Mengajukan cara penyelesaian masalah
  • Mengajukan pendapat/prediksi/proporsi
  • Mencari hubungan antara proporsi

Berpikir operasional dan kombinasoris, berarti melakukan pengujian hipotesis dan berpikir ilmiah dan sistematis.



Memahami perkembangan diatas sangat penting untuk menentukan cara mendidik. Implikasinya pada pendidikan:

  1. Memberi kesempatan untuk diskusi, memberikan tugas penulisan makalah.
  2. Mengamati kecenderungan siswa untuk partisipasi.
  3. Jangan batasi pengetahuan mereka dan kecakapan untuk memanfaatkan apa-apa yang diketahui.
  4. Kadang kesulitan menangkap konsep-konsep yang sifatnya abstrak.
  5. Diskusi dapat membantu meningkatkan pemahaman.
  6. Guru perlu menjelaskan konsep yang abstrak secara simpatik (mencoba memahami karakter tiap orang, dan melakukan pendekatan yang tepat).
  7. Beri peluang untuk melakukan penjelajahan (ada pengarahan terlebih dahulu dari pendidik).
  8. Berikan tugas menantang, problem-based learning (sebelumnya pendidik harus bisa memprediksi bahwa peserta didik mampu mengerjakan tugas itu).
  9. Diusahakan munculnya minat jangka panjang yang relevan dengan kehidupan masa depan dan ada implikasinya pada pekerjaan.
  10. Materi pelajaran mengandung nilai-nilai intrinsik yang bermakna bagi kehidupan.
  11. Pembelajaran hendaknya melibatkan siswa secara aktif.
  12. Berikan peluang berekpresi dan berkarya pada peserta didik.
  13. Metode pembelajaran-ketrampilan proses, inquiri/penemuan.

Perencanaan Peserta Didik

Berbicara tentang perencanaan, berarti membicarakan waktu yang akan datang. Kita harus menentukan tujuan dan harapan tentang kejadian yang akan terjadi di masa yang akan datang. Perencanaan berarti memilih. Memilih satu yang terbaik dari sekian banyak alternative yang ada. Perencanaan berarti sistematis atau menggunakan langkah-langkah dan prinsip-prinsip yang sesuai. Kita melakukan perencanaan pasti untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara efektif dan efisien.

Dalam perencanaan, kita menentukan tindakan apa yang akan diambil, strategi dan metode apa yang akan digunakan, seperti apa mekanisme pelaksanaannya, prakiraan biaya, serta penggunaan waktu, untuk mengelola peserta didik yang di dasarkan atas data dengan memperhatikan prioritas yang wajar, bersifat efisien untuk tercapai tujuan pendidikan.

Budgeting di lakukan karena memang dalam pengelolaan pendidikan, khususnya peserta didik memerlukan biaya dan biaya itu harus direncanakan agar efektif dan efisien. Bagaimana kita merencanakan pendidikan dengan biaya yang seefisien mungkin, namun berkualitas dan memiliki efektifitas tinggi dalam mencetak lulusan-lulusan yang kompeten. Dalam perencanaan juga harus memperhitungkan masalah waktu, perihal kapan akan dilaksanakan perencanaan tersebut. Jangan sampai rekruitmen sebagai tahap awal pengelolaan peserta didik menjadi gagal total hanya karena salah menempatkan waktu pendaftaran.

Alasan mengapa kita perlu melakukan perencanaan adalah karena kita harus memilih. Setelah tujuan pengelolaan peserta didik ditetapkan, masalah selanjutnya adalah apa yang akan dilakukan untuk mewujudkan tujuan tersebut? Kapan harus dikerjakan? Siapa yang mengerjakan? Di mana kita mengerjakannya? Bagaimana melakukannya? Perencanaan menjawab itu semua. Perenacanaan menetukan apa yang dapat dikerjakan atau apa yang mesti kita lakukan. Perencanaan menentukan kapan pekerjaan kita bisa dikerjakan. Perencanaan menentukan bagaimana cara mengerjakannya. perencanaan menentukan siapa yang mengerjakan. Perencanaan memperhitungkan berapa biaya yang dibutuhkan. Dan perencanaan menentukan dimana pekerjaan itu akan dilakukan.

Dalam merencanakan pengelolaan peserta didik, kita harus memperhatikan faktor dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal).

Internal Resource analysis

  • Financial. Apakah modal sudah ada? Apakah ketersediaan modal sudah sesuai dan realistis dengan perencanaan dan goal yang ingin dicapai?
  • Human Resource Assesment. Bagaimana kita menilai SDM yang telah kita miliki, apakah mereka sudah cukup capable untuk melaksanakan kegiatan pengelolaan tsb.
  • Marketing Audit. Melakukan checking terhadap keuangan dan efektifitas melalui cash flow.
  • Operation analysis. Menganalisis kegiatan operasional mulai dari penerimaan, seleksi, penempatan, orientasi, pembelajaran, pengembangan, hingga pembiayaan.
  • Other internal resource or research & deveploment.


Faktor Eksternal

  • Industry dan Market. Harus memahami psikologi pasar dan industri. Lihat pendidikan macam apa yang masyarakat butuhkan.
  • Competitor/Pesaing. Dengan memperhatikan pesaing-pesaing kita, kita dapat menentukan kebijakan yang inovatif dan berbeda untuk lebih mendapatkan perhatian dari masyarakat tanpa mengurangi kualitas pelayanan pendidikan, tentunya.
  • Political dan Regulatory/kebijakan. Dalam mengelola pendidikan kita mesti berkiblat pada peraturan dan perungang-undangan yang ada agar dalam pelaksanaannya nanti tidak berselisih dengan hukum.
  • Social. Kita harus melihat bagaimana kondisi dan lingkungan sosial yang ada dalam pengambilan kebijakan.
  • Human Resource. Kita juga harus pertimbangkan bagaimana caranya mendapatkan sumber daya manusia yang kompeten dan profesional untuk mendukung keberhasilan pengelolaan pendidikan.
  • Macro economic. Kita harus mengetahui sekmen apa yang menjadi sasaran pembuatan sekolah nanti. Kita harus melihat dari sisi ekonomi. Bagaimana tingkat ekonomi masyarakat? Selanjutnya, bagaimana menciptakan pendidikan yang terjangkau oleh masyarakat?
  • Technological. Pengelolaan mesti mengikuti perkembangan zaman yang ada, terutama dalam hal teknologi agar dapat memudahkan kita dalam mengelola peserta didik.

Muatan dalam Perencanaan Pendidikan diantaranya: strategi, kebijakan, program, prosedur, metode, sistem, anggaran, standar yang dibutuhkan. Bagaimana strategi untuk mencapai tujuan, kebijakan apa yang ditempuh, program seperti apa yang akan dilaksanakan, apa saja tahapan-tahapan yang mesti dilalui, metode seperti apa yang digunakan, berapa perhitungan biayanya, serta menetapkan standard seperti apa yang dianggap sebagai sebuah keberhasilan pencapaian tujuan manajemen.

Sedangkan materi-materi yang ada dalam perencanaan diantaranya rekruitmen. Bagaimana agar masyarakat tertarik untuk mendaftar di lembaga pendidikan yang kita kelola. Publikasi, iklan, sosialisasi, dll. Selanjutnya seleksi. Dalam seleksi peserta didik, harus ditetapkan siapa sasarannya, bagaimana proses seleksinya, apa standard input-dalam hal ini peserta didik-yang diinginkan, dll. Setelah murid yang diinginkan sudah terseleksi sesuai standard, tidak berhenti di situ, tapi peserta didik ditempatkan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, semisal pembagian kelas berdasar tingkat pemahaman, manajemen kelas, penjurusan, dll. Langkah selanjutnya orientasi. Peserta didik diperkenalkan dengan lingkungan belajarnya. Mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan, teman-teman, fasilitas-fasilitas sekolah, hingga tata tertib. Kita juga harus memikirkan bagaimana pengembangan potensi peserta didik dilakukan, semisal ekstrakulikuler yang merupakan pengembangan minat dan bakat atau OSIS yang melatih kecakapan peserta didik dalam berorganisasi. Konseling sangat diperlukan karena pasti akan ada konflik yang terjadi pada peserta didik baik dengan diri sendiri, teman sebayanya, guru atau bahkan orangtuanya. Fasilitas dan layanan untuk pesera didik juga perlu diperhatikan, seperti beasiswa, tempat ibadah, UKS, kantin, lapangan olah raga, dll. Manajemen juga harus siap dalam menghadapi keadaan ketika peserta didik mengajukan atau diharuskan untuk sign out yang bisa terjadi lantaran drop out, pindah, maupun lulus. Hal yang terakhir adalah sekiranya dalam pengelolaan peserta didik, semua didukung dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada. Semua harus teratur dalam sebuah sistem informasi yang jelas. Sehingga arsip-arsip tentang peserta didik dan pengelolaannya dapat tertata dengan rapih dan aman.